Translate

Kamis, 03 Desember 2015

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN

 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)
Sudah menjadi keharusan bahwa di dalam setiap kelompok masyarakat diperlukan seorang pemimpin. Hal ini tidak hanya berlaku dalam kelompok atau organisasi besar, tetapi juga dalam kelompok-kelompok kecil. Pemimpin dan kepemimpinan sekarang sudah menjadi kebutuhan penting dalam masyarakat modern. Ada banyak orang, baik dengan cara langsung ataupun dengan gaya malu-malu kucing ingin menjadi pemimpin. Tentu ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk tujuan tersebut. Tetapi, salah satu di antaranya adalah adanya pemikiran bahwa menjadi pemimpin berarti akan menjadi tuan dari yang dipimpin dan ini jelas sebuah konsep yang berlawanan dengan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yang menyatakan bahwa pemimpin harus menjadi pelayan dari semuanya (Matius 22:11).
Telah diakui secara umum bahwa dewasa ini, kita sedang mengalami krisis di bidang kepemimpinan. Hal ini juga terjadi dalam gereja atau lembaga Kristen. Krisis ini semakin diperburuk oleh pemimpin-pemimpin gereja atau lembaga Kristen, yang meniru dan mempraktikkan gaya kepemimpinan sekuler. Sebagai akibatnya, tentu saja pengaruh dunia semakin dalam masuk ke gereja. Apakah salahnya mempraktikkan kepemimpinan sekuler dalam pelayanan gereja? Permasalahan yang utama adalah kita tidak dapat memimpin suatu gereja dengan sukses, karena dalam prinsip-prinsip kepemimpinan sekuler, tidak mengenal kuasa Roh Kudus. Tetapi ada satu perkembangan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu dunia bisnis yang sering diasumsikan sebagai dunia sekuler dan kotor, justru tanpa disadari lebih banyak mengadopsi prinsip-prinsip kepemimpinan alkitabiah, sementara gereja meninggalkannya. Dengan satu kalimat singkat dapat dikatakan bahwa dalam kepemimpinannya, bisnis semakin alkitabiah dan gereja semakin sekuler.
Hal yang sangat mengkhawatirkan sekarang adalah kecenderungan lembaga gereja yang bergantung pada prinsip-prinsip kepemimpinan manusia, sehingga tidak tertutup kemungkinan suatu saat di dalam gereja, kita akan berusaha melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara manusia.
Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang melayani. Ini artinya bahwa seorang pemimpin Kristen bukan menerapkan kekuasaannya berdasarkan ego, tetapi berdasarkan tanggung jawab. Seorang pemimpin yang berdasarkan ego akan memuaskan egonya dalam setiap tujuan, sedangkan pemimpin yang dimotivasi oleh tanggung jawab, akan membuat dia mengurbankan egonya bagi suatu tujuan. Perlu diwaspadai bahwa seorang pemimpin yang dikendalikan ego, akan mengurangi integritasnya. Kepemimpinan membutuhkan kemauan keras, bukan kemauan yang egois atau keras kepala, melainkan kemauan yang tetap untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. Esensi kepemimpinan Kristen tidak terletak pada jabatan, gelar, atau pangkat, tetapi pada “kain dan basi” sebagaimana teladan Yesus saat Ia membasuh kaki murid-murid-Nya.
Model kepemimpinan melayani adalah model yang absah dan alkitabiah, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Mereka yang diangkat menjadi pemimpin di tengah-tengah umat Allah, selalu diangkat untuk melayani, entah sebagai imam, raja, atau nabi. Ketika Salomo diangkat menjadi raja, hal yang paling menyenangkan hati Tuhan adalah ketika dia memohon hati yang paham untuk membedakan antara yang baik dan jahat (1 Raja-Raja 3:9). Di sini jelas, permintaan ini bukan untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Demikian juga Harun saat ia ditahbiskan menjadi imam, di pundak kiri dan kanannya memikul masing-masing 6 nama dari 12 suku Israel yang ditulis pada batu permata, dan pada tutup dadanya ada 12 permata yang juga melambangkan suku-suku Israel. Hal ini dilakukan sebagai lambang tanggung jawab Harun untuk senantiasa berdoa bagi suku-suku yang dipimpinnya (Keluaran 28:12,29). Demikian juga dengan para nabi, mereka dipanggil untuk memimpin dan melayani umat.
Tuhan Yesus juga mengacu pada model yang sama. Ia mengajar murid-murid-Nya cara memimpin yang harus mereka miliki, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (Matius 20:25-27) “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, ia hendaknya menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:30-37)
Dalam konteks Markus 9, yang dipermasalahkan oleh murid-murid adalah soal siapa yang terhebat di antara mereka. Ironisnya, hal itu terjadi setelah Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya bahwa Ia akan menuju salib. Setelah peristiwa itu, Yesus mengajar mereka bahwa yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi hamba, dan Yesus merangkul seorang anak kecil sebagai model. Dalam Lukas 22:26, Yesus kembali menekankan bahwa yang memimpin hendaklah menjadi pelayan. Selama pelayanan-Nya di dunia, Yesus dengan keras menegur para ahli Taurat dan orang Farisi, yang pada saat menjabat sebagai pemimpin jemaat “suka duduk di tempat terhormat” (Matius 23:6-7).
Akhirnya, hal yang paling sulit untuk dilakukan dalam kepemimpinan yang melayani adalah, banyak orang beranggapan bahwa jika seorang pemimpin mengambil bagian dalam melakukan tugas sederhana dianggap dapat menurunkan kewibawaannya sebagai pemimpin. Jangan menganggap bahwa merendahkan diri itu hal yang mudah bagi seorang pemimpin. Masyarakat kita saat ini sudah memiliki konsep bahwa yang memimpin adalah bos, sehingga kalau seorang pemimpin mengerjakan tugas sederhana, ini tentu akan dianggap sebagai hal yang aneh. Dunia mustahil dapat menerima pandangan seperti ini, sebab yang dipandang wajar oleh dunia adalah seorang pemimpin harus menunjukkan kekuasaannya atas orang yang dipimpinnya. Tetapi kepemimpinan seperti ini menurut Yesus tidak dapat diterapkan dalam gereja, dan hal yang harus selalu diingat bahwa gereja dipanggil untuk melakukan kehendak Allah. Perlu diingat bahwa dalam konsep “pemimpin pelayan” yang menjadi tekanan bukanlah aspek “pemimpin” namun aspek “pelayan”. Pemimpin pelayan bukan pemimpin yang melayani, tetapi pelayan yang memimpin.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs: Gereja Pemberita Injil
Alamat URL: http://www.gepembri.org/cgi-bin/show.cgi?file=art/071211.id Judul artikel: Pemimpin Adalah Pelayan Penulis: G.I. Kristison
KUTIPAN
Nilai seorang pemimpin yang langgeng akan diukur oleh suksesi. (John C. Maxwell)
JELAJAH BUKU: KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Judul buku: Kepemimpinan yang Efektif
Judul asli buku: On-Purpose Leadership
Penulis: Dale Galloway dan Warren Bird
Penerjemah: Meiliana Purnama
Penerbit: Harvest Publication House, Jakarta 2003
Ukuran: 15 cm x 23 cm
Tebal: 190 halaman
Pemimpin yang memiliki kompetensi adalah pemimpin yang bisa memotivasi dan meregenerasi pemimpin-pemimpin baru. Karena jika seorang pemimpin tidak melakukan hal ini, maka terjadi sebuah kegagalan dalam struktur kepemimpinannya. Mengapa hal ini sangat penting? Karena bagi sebuah organisasi atau struktur lembaga apa pun, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan dengan tujuan agar dapat mempertahankan eksistensi dari lembaga tersebut. Jika tidak, maka harus siap menghadapi stagnasi yang berujung kepada kehancuran.
Terlalu banyak pemimpin yang terperangkap di tempatnya bagaikan kotak dengan langit-langit terbuat dari kaca. Atau di suatu tempat yang dikelilingi oleh dinding bata, atau dalam sebuah lingkungan yang kacau dan membingungkan. Apa pun situasinya, dalam buku yang berjudul “Kepemimpinan yang Efektif” ini, dipaparkan mengenai pandangan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengalami suatu terobosan ke tingkat-tingkat baru dalam pelayanan Anda. Produktivitas pelayanan Anda akan meningkat secara bertahap sementara Anda mendorong dan memberi semangat kepada para pemimpin biasa yang Anda pimpin, yang pada gilirannya akan memperlengkapi orang lain untuk menjalankan pelayanan.
Buku ini ditulis oleh Dale Galloway serta Warren Bird, yang merupakan rekan pengarang dan editor yang membantu Dale Galloway dalam meneliti perkembangan gereja-gereja. Mereka adalah orang-orang yang mengembangkan para pemimpin pelayanan di gereja lokal dengan dasar teladan pelayanan Kristus sendiri. Hampir 20 judul buku telah ditulis Galloway sepanjang pelayanannya sebagai pendeta dan pengajar. Dalam buku ini ada empat bagian besar yaitu, Bebaskan Diri Dari Status Quo, Bebaskan Diri Dari Kehidupan Sebagai Petualang dan Menyendiri, Bebaskan Diri Dari Sikap-sikap yang Menyerang dan yang terakhir Bebaskan diri dari Orang-orang yang Bermasalah. Dale Galloway berusaha menjelaskan dengan bahasa yang lugas dan sederhana, sehingga sangat memudahkan pembaca mengerti maksud dan tujuan penulis dalam setiap pokok bahasan. Selamat menyimak dan temukan keyakinan untuk menemukan satu masa depan pelayanan yang luar biasa.

Diulas oleh: Yonathan Sigit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar