Translate

Kamis, 20 Juni 2013

Ibu, Sobeklah Aku!

ibuSenja itu, Rina seorang diri. Duduk di bawah pepohonan dan keningnya berkerut, batinnya berlari serta pikirannya berteriak. Dia melihat sekumpulan awan yang sedang berterbangan ke sana ke mari, dalam menyambut sang ratu-nya untuk kembali ke peraduannya. 

Tampak dedaunan pepohonan sekali-kali menyapanya, dengan cara berguguran dari ranting. Perlahan pula, dedaunan itu berguguran ibarat ditembak musuh dari seberang. Suasana udara di senja itu pun, sangat melankolis. Walau pun keningnya berkerut, Rina tidak terbawa emosi. Batinnya terasa dingin. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. 

Dimana, bila Rina sedang dihadapi suatu problem, batinnya meraung-raung dan siap menerkam apa saja bila dilihat dan didengarnya. Bahkan tubuhnya sendiri, pernah disobeki dengan tangannya. Namun, tubuhnya tak sampai berluka.

Pernah suatu ketika, ketika ibunya diomelin tetangga sebelahan rumahnya yang juga masih mempunyai tali pusar dalam rumpun keluarga besarnya, Rina yang sedang berbaring di tikar, daun telinganya menangkap beribu-ribu kalimat yang ditujukan kepada ibunya. Rina beranjak bangun dari pembaringannya dan menuju ke arah ibunya untuk memastikan dari dekat, apa yang sedang dipertontonkan tetangganya itu terhadap ibunya. 

Rina berusaha menahan kadar amarah, yang perlahan menggigit ubun-ubunnya. Tarikan napasnya tidak beraturan lagi, bak orang gila yang diganggu ke-gila-annya oleh orang normal. Denyut nadi bersama sekompi adrenalinnya beradu kekuatan, di dalam tubuhnya yang siap mematangkan hasil nanakan di tunggu perapian.

“Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak kalimat yang sangat mengganggu tidurku?? Katakan!! Entah setan atau Tuhan sekali pun, aku ingin menghadapinya. Kita berasal dari debu tanah, dan tentunya akan kembali pula dalam bentuk tanah. Tanah itu adil. 

Tanah itu selalu siap dan kapan serta dimana saja, ketika kita dipanggil kembali ke “kandang”. Aku tidak tega ibu diteriaki tetangga. Aku tidak tega melihat ubun-ubunku terbakar habis, hanya karena amarahnya “setan-setan” jalanan. Dan aku pun tidak akan membiarkan ibu hidup dan berkembang, dihimpit keserakahan “setan-setan” tersebut. Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak sungai yang mulai mengaliri amarahku?? Katakan!!!

“Rina, anak Ibu yang baik hati. Tenangkan dirimu. Kuasailah amarahmu. Amarah adalah sebuah bentuk kediktatoran dalam membunuh diri dan masa depan. Amarah juga merupakan “pelacur-pelacur” kecil, yang saban hari mengganggu tangga pemikiran kita. 

Dewasa dan bijaklah dalam mendengar, melihat serta menyelesaikan setiap problem. Problem membuat kita semakin kaya akan cara-cara dalam menuntaskan problem itu sendiri. Ingat lho, setiap kita mempunyai problem yang telah terisi ke dalam perabotan rumah tangga. Dan tergantung kita-nya saja dalam mempergunakan perabotan tersebut. Masih dikuasai amarah??

“Masih!!” “Bersedia keluar dan berdamai dengan amarahmu itu?? Bersedia berdamai dengan dirimu, lingkungan serta orang-orang yang telah mencerca ibu dengan tidak sopan?? Bersediakah untuk kesemuanya itu??”

“Ibu, maafkan aku. Aku bukanlah malaikat. Aku juga bukanlah Tuhan Allah. Aku hanyalah sebagian dari sisa-sisa “sampah”, yang selalu kemasukan bau busuknya tetangga-tetangga itu. Aku bukan pohon, bila ditebas rantingnya hanya diam dan iklhas diperlakukan seperti itu. 

Aku bukan putik bunga, bila dihisap madunya oleh sekawanan lebah dan bisanya menangis. Aku bukan kertas, bila dipakai buat menulis secarik kata-kata cinta, hanya tersenyum sesaat. 

Aku bukan sapu tangan, bila dipakai mengeringkan lelehan keringat dan cuman mengiyakan saja. Namun dari itu, aku hanyalah semak belukar yang tumbuh, bernapas dan memakan. 

Bahkan, aku pun selalu dimakan ternak-ternak bila dilanda kelaparan sampai tidak meninggalkan sejejak pun, untuk dibuntuti ke manakah kaki-kakinya menorehkan luka yang belum disembuhkan dan telah bernanah bertahun-tahun. 

Sanggupkah ibu menyembuhkan kesemuanya itu, dengan sebotol betadine dan sepotong guntingan kain kasa?? Sanggupkah ibu mengembalikan ceceran-ceceran darah perawanku, yang pernah tertumpah di tanah ini karena dinaiki lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?? 

Siapakah yang menjual perawanku kepada lelaki itu, demi melunasi hutang piutang?? Ibu, dekati dan sobeklah aku!”

(Felixianus Ali— Cerpenis, Penyair, Freelance dan Penulis buku 1.700 Kata-Kata Bijak dari A sampai Z. Asal Atambua, NTT. Saat ini, tinggal dan bekerja di Jakarta. Sabtu, 2 Maret 2013)

“LAYANI MEREKA, JANGAN LAYANI SAYA”

“Layani mereka, jangan layani saya!” Dari banyak kalimat yang muncul di film “Soegija”, hanya kalimat tersebut yang menusuk hati saya.

 Kalimat ini muncul dalam adegan ketika masyarakat berbondong-bondong mengungsi di Gereja Mgr. Soegija. 

Di tengah banyaknya orang dan suasana kacau, para relawan yang kebingungan mendatangi Mgr. untuk menerima perintah apa yang harus dilakukan. 

Setelah memberikan arah dan hal-hal yang harus segera lakukan, Mgr. langsung menggerakan para relawan agar sigap melayani para pengungsi dan bukan melayani beliau. Bagi saya kata-kata ini cukup berkesan. 

Mgr. Soegija adalah uskup pribumi pertama Indonesia dan memang sudah sepantasnya harus dihormati dan dijunjung tinggi. Dalam situasi negara yang sedang carut marut karena perang, beliau sebetulnya bisa dan mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menggunakan segala privilese yang ia dapat karena jabatan uskupnya. 

Namun, beliau justru bersikap sebaliknya. Beliau meninggalkan kenyamanannya, turun dan menyapa masyarakat, rela menyerahkan gerejanya demi menampung para pengungsi. 
Di samping itu seamua, ia adalah seorang pemimpin yang tahu peran dan tugasnya sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Ia hadir ketika umat membutuhkan seorang pemberi arah. 

Beliau mengambil keputusan ketika para tetua masyarakat kebingungan. Beliau sigap dengan mengadakan diplomasi politik dengan pihak luar negeri, khususnya Vatikan. Kata-kata yang dilayangkan Soegija “Layani mereka, jangan layani saya!” dapat menjadi kritik bagi siapapun yang menjadi pemimpin di negeri ini. 

Adalah hal kodrati jika manusia berusaha mencari aman untuk dirinya sendiri. Tetapi jika kebablasan sikap seperti itu akan mematikan suara hati dan membangun tembok bagi diri sendiri. Lewat kata-kata ini, Soegija mau menekankan bahwa pemimpin adalah pelayan. 

Dalam Injil Matius 23:11, Yesus pun bersabda, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. ‘Besar’ di sini bisa dalam bentuk apapun. Saya juga meyakini bahwa jika kita diberi banyak, maka kita dituntut banyak pula. Soegija adalah sosok yang dengan sempurna melaksanakan perintah Yesus itu. 

Dan ini hendaknya berlaku pula bagi para pemimpin negeri, para ulama, para imam, rektor, dekan, bidel umum, ketua seksi dan para pemimpin dalam lingkup apapun. 

Pemimpin tidak cukup hanya bersikap diktator, hanya menunggu laporan kerja dari orang-orang bawahannya. Tetapi bagaimana kehadirannya dapat memberi harapan ketika situasi terasa tanpa harapan, mengambil keputusan dalam situasi kebingungan. Film ini menggambarkan bahwa Soegija mampu melakukan itu semua dengan sangat baik.

“MENURUT KAMU SIAPAKAH AKU INI?”

Renungan Hari Minggu Biasa ke XII
Inspirasi Bacaan:
Za. 12:10-11, 13:1; 
Gal. 3:26-29; Luk. 9:18-24

Waktu membaca bacaan ini, khususnya bacaan Injil, saya teringat akan satu pengalaman yang menyentuh saya secara pribadi. Pengalaman itu adalah sebagai berikut. Ketika saya ditahbiskan menjadi seorang imam, saya membuat misa pertama di paroki di mana saya dulu waktu kecil menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman sebagai putera altar. Misa pertama itu menjadi kesempatan bagi saya untuk bereuni dengan umat paroki yang sudah saya tinggalkan 20 tahun yang lalu. Ketika misa yang dihadiri begitu banyak umat itu selesai saya pimpin, para umat itu menyalami saya satu persatu. Begitu beragam cara mereka mengungkapkan kegembiraan atas tahbisan baru yang telah saya terima, namun saya sangat tersentuh ketika ada salah seorang teman mantan sesama putera altar di waktu kecil memeluk saya sangat erat dan dia menangis. Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa dia menangis; ketika saya masih memeluknya dia berbisik di telinga saya, “Romo, yang setia ya…maafkan saya sebab saya tidak lagi seorang Katolik.” Saya sangat terkejut, karena saya mengenal teman saya ini di waktu kecil adalah seorang anak yang sangat rajin bertugas sebagai putera altar, sangat dekat dengan kehidupan Gereja. Bagaimana mungkin dia meninggalkan imannya? Tiba-tiba saya merasa sangat sedih; merasa sangat “kehilangan” dia.

Dalam bacaan ini, para murid ditanya oleh Yesus mengenai “Siapakah Dia?”. Menarik, bahwa Yesus bertanya dua kali kepada para muridnya. Pertanyaan pertama “Kata orang banyak: siapakah Aku ini?” (Luk. 9:18) ada beragam jawaban para murid, ada yang menyebut Yesus sebagai “Yohanes Pembaptis” atau “Elia” atau “salah seorang nabi” (Luk. 9:19). Setelah mendengar jawaban para murid itu, Yesus bertanya lagi untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama namun dengan rumusan yang berbeda, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (luk. 9:20). Anda bisa melihat perbedaannya? Yang pertama “menurut kata orang” sedangkan yang kedua “menurut kamu”. “Menurut kata orang” berarti menurut pendapat atau kaca mata orang lain; ada “jarak” antara Yesus dengan para murid yang ditanya; sedangkan pertanyaan “menurut kamu” menunjukkan “kedekatan” antara Yesus dengan para murid; menunjukkan bahwa pertanyaan kedua ini adalah pertanyaan yang sangat bersifat pribadi, bersifat personal. Terhadap pertanyaan ini, Petrus menjawab, “Mesias, dari Allah!” (Luk. 9: 20). “Menurut kamu” menjadi pertanyaan yang juga bisa ditujukan pada kita masing-masing secara pribadi. “Mesias dari Allah” adalah jawaban Petrus. Tapi apa jawaban saya, jawaban anda secara pribadi? Jawaban jujur kita bisa jadi berbeda dengan jawaban Petrus. Jika anda bingung dan tidak bisa menjawab lebih baik anda mengambil waktu mundur selangkah untuk merenungkannya. Siapa Yesus menurut aku? Jawaban anda akan sangat tergantung pada seberapa dekat dan seberapa dalam anda mengenal Yesus. Jawaban anda juga akan menjadi tanda seberapa besar iman dan motivasi yang menggerakkan anda untuk mengikuti-Nya. Sangat banyak buku ditulis tentang Yesus, mengenai siapakah Yesus; namun, jawaban itu bukan di situ. Jawaban sejati adalah apa yang ada di dalam hati kita; sejauh mana kita “mengalami” Yesus dalam hidup kita. Pertanyaan Yesus ini bukanlah pertanyaan dengan jawaban rumusan-rumusan menurut “kata orang” tetapi menurut pengenalan pribadiku pada-Nya.

Yesus bukan tanpa maksud ketika Dia bertanya kepada para murid, “Menurut kamu, Siapakah Aku ini?” Dia membutuhkan jawaban tegas dari para murid akan pengenalan mereka terhadap-Nya karena Dia tahu bahwa para murid akan memasuki saat-saat di mana mereka akan goncang karena kematian yang akan Dia alami dan juga barisan penganiayaan serta penderitaan yang akan mereka hadapi (Luk. 9:22-23). Yesus mencari “motivasi’ apa yang mendorong para murid yang mengikuti-Nya. Yesus mencari “apakah ada iman” di hati para murid-Nya pada-Nya; sebab ada tidaknya iman itu, kuat tidaknya iman itu, akan sangat menentukan daya juang para murid untuk menghadapi tantangan yang berat di masa depan.

Saya tidak menghakimi atau menilai teman saya yang meninggalkan imannya sebagai pribadi yang buruk, karena iman selalu merupakan pilihan bebas, tidak pernah bisa dipaksakan. Dengan contoh pengalaman kongkrit saya di atas, saya hanya ingin mengajak anda untuk menyadari diri dan bertanya, “Mengapa aku memilih menjadi pengikut Kristus, sebagai orang Katolik?” Apa yang mendorongku untuk memilih Yesus sebagai penyelamatku? Sehingga “kutahu yang kumau” bukan “kutahu yang suamiku mau, yang istriku mau, yang orang tuaku mau”. Jawaban dari pertanyaan itu haruslah sebuah jawaban yang sangat intim dan pribadi yang muncul dari kedalaman hati kita. Aku tahu mengapa aku mengikuti Yesus dan itulah sebabnya akan kuberikan yang terbaik bagi-Nya. Jawaban itu adalah bekal utama untuk menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan untuk meninggalkan-Nya.
Jakarta/26/3/2012

Selasa, 18 Juni 2013

Foto2 Krisma 2013 by: MMK

inilah beberapa foto yang di ambil pada saat penerimaan Sakramen Krisma di Katedral pada tanggal 19 Mei 2013 yang lalu....







bagi yang ingin mengambil fotonya. silakan coment di Facebook dan Twitter kami. atau langsung datang ada di markas kami. jl. kajaolalido no 14 Makassar. Gereja Katedral Makassar..