Translate

Tampilkan postingan dengan label lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lain-lain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Tema Natal Nasional 2015:

 “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah”

Tahun ini Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menetapkan bersama bahwa tema Natal pada tahun 2015 ini adalah “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah” (Kejadian 9:16).

Ilustrasi: logo PGI dan KWIMenurut Pendeta Gomar Gultom, seperti dikutip dari pgi.or.id, Sekretaris Umum PGI mengatakan, “Tema tersebut hendak mengajak kita lebih inklusif. Kelahiran di kandang Betlehem mengindikasikan bukan hanya komunitas manusia yang ada di sana, tapi juga hewan”.

Lanjutnya, “Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk ‘hidup sebagai keluarga Allah’. Lebih lanjut, menurut Gomar Gultom, Pesan Natal Bersama 2015 akan dirumuskan oleh PGI dan KWI pada pertengahan November 2015.

Menurut informasi yang beredar, Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani Tingkat Nasional direncanakan di Manado pada tanggal 5 Desember. Namun tanggal tersebut masih dibahas, mengingat pada tanggal tersebut, umat Katolik masih dalam masa Advent (penantian kedatangan Yesus Kristus), belum bisa menghayati misteri Natal secara penuh. Harapan umat Katolik, sebagaimana Surat KWI menanggapi beredarnya informasi penetapan Perayaan Natal Nasional pada tanggal 5 Desember, Perayaan Natal Nasional dilaksanakan sesudah tanggal 25 Desember. Perayaan Natal Nasional biasanya dilaksanakan tanggal 27 Desember. Tahun ini, tanggal 27 Desember jatuh pada hari Minggu, maka Natal Nasional diharapkan bisa dimajukan menjadi 26 Desember atau 28 Desember. (Pormadi/pgi.or.id/berbagai sumber)

Kamis, 03 Desember 2015

10 Legenda Sinterklas Dari Berbagai Belahan dunia

Sosok Sinterklas yang sangat popular di hari natal sudah dikenal sampai ke pelosok dunia namun tahukah Anda bahwa ternyata sosok Tuan Santa yang ternama ini punya banyak versi di negara-negara yang berbeda tergantung atas legenda kepercayaannya. Berikut ini adalah 10 legenda Santa Klaus dari berbagai belahan dunia.

10. The Yule Lads - Islandia

The Yule Lads - 13 Sinterklas
Legenda natal Islandia menceritakan mengenai 13 sosok sinterklas yaitu Yule Lads. Pada awalnya, Yule Lads digambarkan sebagai 13 troll yang memiliki sifat sangat nakal dan dengan keisengan berbeda-beda sepanjang tahun. Namun seiring perkembangan zaman, legenda mulai berubah dan Yule Lads yang jahat perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang baik.
13 hari sebelum malam natal adalah hari-hari dimana Yule Lads akan memberikan hadiah kepada anak-anak baik selama 13 hari berturut-turut hingga malam natal tiba. Setiap harinya, Troll yang berbeda akan mengunjungi anak tersebut dan jika anak itu adalah anak baik hadiah yang baik juga akn diberikan, namun apabila ternyata anak itu adalah anak nakal maka yang diberikan adalah kentang busuk.

9. Tomte - Swiss

Tomte si peri natal kecil
Legenda Tomte berasal dari Swiss dan ia dideskripsikan memiliki wujud seperti gnome (peri goblin). Berwujud agak kecil dengan topi kerucut yang biasanya berwarna merah. Tomte sendiri biasanya tinggal dekat dengan perternakan atau pertanian milik warga, dan ia biasanya akan memperhatikan keluarga dari petani tersebut.
Jika keluarga tersebut berbuat tidak baik, maka Tomte selaku Sinterklas versi Swiss akan melakukan hal buruk pada keluarga tersebut bahkan di katakan bahwa mereka tidak segan untuk melukai atau membunuh hewan perternakan milik keluarga tersebut.

8. Christkind - Jerman, Austria, Italia, Brazil

Christkind
Legenda natal ini dapat terdengar dari berbagai belahan dunia seperti Jerman, Austria, Italia, dan Brazil. Christkind dapat diartikan sebagai Anak Kristus dan ia memiliki wujud seperti malaikat hanya saja berbentuk seperti anak kecil (masih ingat dengan cupid). Dideskripsikan sebagai anak kecil berambut pirang, dengan sepasang sayap sebagaimana malaikat-malaikat popular umumnya. Ia adalah sosok malaikat yang dikatakan adalah Tuhan Yesus dalam wujud bayi. Uniknya, beberapa orang percaya bahwa Christkind adalah sosok perempuan namun beberapa lainnya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Dalam kemunculannya saat memberikan hadiah, Christkind tidak pernah menampakkan wujudnya namun ketika dirinya mengunjungi rumah yang satu ke rumah yang lain, ia akan memberitahukan kunjungannya itu dengan membunyikan bel rumah. Setelah ditelusuri ternyata diketahui bahwa legenda ini diciptakan oleh Martin Luther pada abad ke-15 untuk mengubah persepsi orang-orang akan Sinteklas umumnya.

7. Belsnickel - Jerman, Austria, Argentina, Pennsylvania US

Belsnickel
Legenda ini cukup popular dalam komunitas Jerman dan kaum Belanda di Pennsylvania US. Legenda ini menceritakan bahwa Santa Klaus memiliki banyak pengikut dan di antara pengikut-pengikutnya ini ada yang bertugas untuk menakuti anak-anak agar mereka berbuat baik. Nah salah satu pengikut Santa yang bertugas melakukan hal ini adalah si Belsnickel.
Ia akan mengunjungi anak-anak nakal 1 hingga 2 minggu sebelum tibanya hari natal. Digambarkan sebagai sosok bertopeng dengan baju compang camping, lidah panjang dan sering menakuti anak-anak. Di sisi lain, jika yang ia temui adalah anak-anak baik maka ia akan memberikan permen untuk mereka sedangkan untuk anak-anak nakal yang diberikan adalah batu bara.

6. Pere Noel - Perancis

Pere noel
Pere Noel atau berartikan Papa Noel merupakan versi Sinterklas yang datang dari legenda Perancis. Terdapat banyak kemiripan antara Sinterklas umumnya dengan si Pere Noel ini, yaitu mereka sama-sama tinggal di Kutub Utara, berjanggut putih, dan tidak melupakan jaket merah ikoniknya. Yang berbeda adalah ia menunggangi seekor keledai bernama Gui yang juga memiliki arti Mistletoe dalam bahasa Perancis. 
Ide dari Sinterklas yang menunggangi keledai inilah yang menyebabkan para anak-anak di Perancis umumnya akan meninggalkan sepatu di depan perapian mereka beserta dengan cemilan dan wortel di dalamnya. Cemilan dan wortel ini ditujukan untuk si keledai Gui dan agar Papa Noel memberikan hadiah sebagai imbalan cemilan tersebut. Umumnya hadiah yang ditinggalkan Papa Noel tidaklah begitu besar jadinya bisa muat ke dalam sepatu.

5. Krampus - Jerman

Krampus membawa kantong, gada, dan bertanduk menyeramkan
Jika biasanya Sinterklas digambarkan sebagai pria berjenggot putih menyenangkan yang suka membagi-bagikan hadiah, maka legenda Sinterklas Krampus di Jerman ini adalah legenda natal yang cukup aneh. Serupa dengan legenda Blesnickel di Eropa, disebutkan bahwa sebelum Sinterklas membagi-bagikan hadiah pada hari natal, ia memiliki seorang pengikut menyeramkan bernama Krampus yang bertugas untuk menghukum anak-anak nakal hanya saja legenda ini lebih ekstrim. Berasal dari Jerman, Krampus dideskripsikan sebagai sosok menyeramkan yang benar-benar berlawanan dari Sinterklas. Nama Krampus sendiri dapat berartikan Claw atau singkatnya Cakar.
Dengan membawa sebuah ranting pohon Birchs, ia akan menghukum para anak-anak nakal. Dan apabila anak-anak tersebut masih tidak patuh, maak Krampus akan menghukum mereka dengan menculik anak-anak nakal tersebut, memasukkan mereka ke dalam karung, dan melemparkan mereka ke neraka. Kisah lain menceritakan bahwa anak-anak nakal ini akan ditenggelamkan di sungai.

4. La Befana - Italia

Befana
Legenda Sinterklas dari Italia ini mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan cerita Sinterklas lainnya. Di Italia, mereka memiliki versi unik akan Sinterklas yang berbeda jauh dari Sinterklas-Sinterklas umum sebagaimana kita kenal sekarang ini. Apabila biasanya digambarkan sebagai pria berjubah tebal, merah, berjanggut putih, maka Befana adalah sosok Sinterklas di Italia yang dapat dikatakan memiliki sosok seperti penyihir perempuan mengendarai sapu terbang. Ingat Harry Potter?
Seperti Santa Klaus, La Befana juga akan membagi-bagikan hadiah ke anak-anak dengan menuruni cerobong asap namun berbedanya adalah ia akan membagikan hadiah ke semua anak, baik maupun nakal. Bedanya adalah anak yang nakal akan diberikan potongan batu bara. Dalam legenda Italia, Befana juga digambarkan sebagai sosok yang suka menjaga kebersihan rumah oleh karena itu ia akan membersihkan lantai sekitar cerobong asap sebelum ia pergi.

3. Ded Moroz - Rusia

Ded moroz
Santa Claus yang berasal dari Rusia ini memiliki nama Ded Moroz yang dimana jika diartikal memiliki arti sebagai Kakek Frost. Berbeda dari Sinterklas umumnya yang mengendap-ngendap dalam membagikan hadiah, Ded Moroz akan memberikan hadiahnya secara langsung kepada anak-anak. Tapi hadiah ini diberikan bukan di malam natal melainkan ketika di malam tahun baru. Hal ini juga dilakukan di Yunani dimana hadiah baru akan diberikan di tahun baru.
Uniknya lagi adalah legenda Rusia menceritakan mengenai dimana sebenarnya keberadaan Sinterklas mereka si Ded Moroz ini, yaitu di kota Velilky Ustyug, Vologda Oblast. Keserupaan lain yang dimiliki Ded Moroz dengan Sinterklas adalah jika Sinterklas didampingi oleh para peri, maka Ded Moroz didampingi oleh seorang pengikut yaitu cucunya, Sengurochka atau Snow Maiden.

2. Sinterklaas - Belanda

Sinterklaas and Zwarte piet
Sinterklaas adalah sosok Santa Claus yang berasal dari Belanda. Sosok ini sebenarnya adalah figur Saint Nicholas, namun ilustrasi dari figus Sinterklaas ini digambarkan sebagai orang tua berambut dan berjenggot putih panjang serta menggunakan jubah merah menyerupai seorang Santo. Di Netherland, Sinterklaas sendiri digambarkan menaiki kuda putih sebagai tunggangannya berbeda dengan di negara seperti Amerika dimana sinterklas umumnya menggunakan rusa.
Sosok unik lainnnya adalah Sinterklaas memiliki pendamping popular yang bernama Zwarte Piet. Wujud dari Zwarte Piet juga tergolong unik dengan dirinya yang diilustrasikan memiliki wajah sangat gelap, rambut keriting hitam dan berpakaian dengan warna yang cerah. Tugas Zwarte biasanya adalah membawa karung berisi permen untuk dibagikan kepada anak-anak yang baik, dan menghukum anak-anak nakal dengan sapunya yang terbuat dari rating pohon Willow. Dikatakan bahwa wajah gelap Zwarte adalah karena dirinyalah yang bertugas memanjat pipa cerobong asap dan turun melalui cerobong asap sehingga debu dan abu hitam menghitamkan keseluruhan badannya seiring waktu.

1. Father christmas - Seluruh Dunia

Father Christmas
Secara singkat, Father Christmas adalah sosok Sinterklas yang kita kenal sekarang ini dengan janggut putih panjang, berjubah merah, dan membawa kantung yang berisi hadiah mainan. Sosok ini dikatakan telah ada sejak abad ke-16 dan berasal dari Amerika, namun ilustrasi awalnya tidaklah sama dengan sosok Sinterklas yang kita kenal sekarang ini. Legenda awal menggambarkan sosoknya sebagai orang tua berpakaian hijau.
Seiring kepopuleran karakter ini, ilustrasinya jugamulai berubah dan disesuaikan dengan nuansa natal ciptaan Charles Dickens. Father Christmas akan memberikan hadiah kepada anak-anak melalui cerobong perapian, dan menaruh hadiah tersebut di bawah pohon natal.
Sumber: http://www.tahupedia.com/ 

Kamis, 23 Mei 2013

Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

=Mari berfilsafat Cinta bersama Gabriel Marcel=
(Remah-remah Pertapaan)

Tahukah Anda bahwa tema pembicaraan paling laris manusia sepanjang abad bukanlah Tuhan atau Allah, tetapi cinta??? Lihatlah saja, entah sudah berapa kilometer buku tentang cinta andaikan dijejer di jalan raya; entah sudah berapa gudang lagu dan filem tentang cinta yang pernah dicipta oleh manusia; dan tak terhitung jumlah manusia yang pernah bahkan mungkin sedang atau akan menjadi korban cinta. Barangkali anda adalah salah satu di antaranya, hahaha. Anda tidak perlu heran dan terkejut, karena manusia pada umumnya terlahir karena cinta. Maka tidak tanggung-tanggung, Gabriel Marcel (seorang filsuf kontemporer) menghabiskan sebagian besar energinya untuk berbicara tentang cinta. 

Dari pertapaanku, di depan jendela raksasa (ukuran 275 cmx4m) rumahku yang sengaja kubiarkan terbuka 24 jam setiap hari, ketika bunyi binatang malam menyambut malam dan kegelapan mulai meliputi kampung Bokin, aku duduk menatap jauh ke depan walau pandanganku tertutup oleh gelapnya malam di luar rumahku tetapi sayup-sayup tertangkap olehku serangkaian kisah perjalananku melayani umat Allah di pedalaman Toraja bagian timur. Aku tiba-tiba tersenyum saat alam sadarku memunculkan kata "Melayani dengan cinta". 

Entah kenapa aku tiba-tiba tersenyum saat pikiranku menggenggap kata tersebut. Mungkin karena atas nama cinta itulah aku harus terkapar seharian dan harus mengurus semuanya serba sendiri. Atas nama cinta, kemarin aku naik-turun kota, dan pulang-pergi ke pedalaman; mulai dari pagi setelah kerja bersama tukang di depan rumah, turun ke kota untuk urusan paroki, dan pulang ke rumah untuk kemudian terus lagi ke pedalaman untuk pelayanan orang mati sampai kehujanan di jalan dan pulang tengah malam. Semuanya "katanya" atas nama cinta. Tetapi sayang, aku mulai tersadar bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Karena itulah aku terkapar sepanjang hari karena energiku terbuang saat mengetahui bahwa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Bagaimana tidak? Saat sebelum makan malam bersama di pedalaman, aku sempat melontarkan "harapan" untuk meminta sumbangan tenanga beberapa orang dari kampung tersebut untuk datang membantu membenahi longsor pastoran, dan yang kudengar adalah "penolakan halus" dengan alasan jalanan yang rusak. Aku sungguh-sungguh tidak siap mendengar "penolakan halus" tersebut dan spontan aku berkata, "Oo, kalau aku yang ke pedalaman mengunjungi kalian, jalanannya tiba-tiba diaspal, tapi kalau kalian yang ke pastoran jalanannya rusak???" Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku diliputi tanya, "Ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan,..." 

Mungkin aku tanpa sadar menjadi penganut aliran "Do ut des = memberi untuk menerima", entahlah. Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjatuh dalam aliran tersebut, tetapi alam bawah sadarku berteriak dan mengamuk, sehingga energiku terkuras habis nyaris seperti tangki motor yang kehabisan bensin di pedalaman.

Dalam adaku yang nyaris kehabisan energi, di depan jendela rumahku di malam ini, tiba-tiba lamunanku terbang ke ruang kuliah sekitar 12 tahun lalu saat duduk manis di bangku filsafat mendengarkan Prof. DR. Sudiarja, SJ menjelaskan tentang teori "filsafat cinta" Gabriel Marcel (1889-1973). Kucoba mengingat bagaimana Marcel membagi empat tingkatan cinta: 1. Kerelaan, 2. Penerimaan, 3. Keterlibatan, dan 4. Kesetiaan. 

Marcel dengan teori aku engkau dalam orang lain, dan aku engkau dalam sesama, membuatku bermenung dan bermenung. Empat tahapan cinta Sang Filsuf Cinta di atas memancingku untuk merefleksi diri. Tahap pertama yakni kerelaan (Prancis: disponsibilite), akhirnya mengantarku untuk menyadari fondasi cinta adalah kerelaan atau tanpa paksaan. Baik aku, maupun umat yang aku layani tanpa sadar membuang fondasi ini (kerelaan). Masing-masing berangkat dengan asumsi kerelaan yang berujung keluhan dan seribu satu alasan. Maka jangan berharap menuai buah cinta, karena fondasinya rapuh dan tidak kokoh bagai fondasi depan rumahku yang "seharusnya (bukan terpaksa) roboh" karena niat baik awal diracuni dengan seribu satu alasan.

Tahap berikutnya setelah kerelaan adalah penerimaan (Prancis: reseptivite), sebuah tahap dimana seharusnya yang lain dipersilahkan untuk memasuki dunia masing-masing dengan mendengarkan stu dengan yang lain. Sebuah tahapan yang sangat berbahaya, karena terkadang jatuh dalam prinsip aku berbeda dengan dirimu karena anda adalah yang lain. Godaan terbesar dalam tahapan ini adalah ingin menang sendiri seperti lagunya Titiek Sandora. Aku sulit menerima situasi bahwa cinta terkadang bertepuk sebelah tangan karena tidak memahami alasan di balik seribu satu alasan. (Bersambung). Mohon maaf aku akhiri di sini, karena pekerjaan dapur memanggilku untuk melaksanakan kewajiban makan supaya kondisi fisik tidak semakin parah.***

Kawasan Wajib Longsor

Selasa, 21 Mei 2013

Tangan Kiri versus Tangan Kanan

Remah-remah dari Pertapaan).

Konon katanya pernah pada suatu ketika terjadi pertengkaran sengit di antara tangan kiri dengan tangan kanan. Penyebab pertengkaran di antara mereka dipicu oleh tangan kiri yang mogok kerja. Masalah mereka sangat sepele saja, yakni "harga diri" yang oleh bahasa manusia dinamai "ketersinggungan". Konon, tangan kiri hanya tersinggung ketika suatu waktu ia menerima pemberian yang diberikan kepada tuannya. Kata-kata spontan sahabat tuannya, "Eee,... tidak sopannya ni orang, terima pakek tangan kiri". 

Ia sudah tidak tahan dengan komen-komen yang ditujukan tuannya kepadanya. Rasa sakit yang selama ini disembunyikannya sudah tidak bisa disembunyikannya lagi. Mungkin karena tempat menyembunyikannya sudah full, hahaha. Ia tidak habis pikir bahwa setiap kali ia melakukan "kebaikan" justru dicap sebagai tindakan kurang sopan bahkan kurang ajar atau juga beberapa kali mendapat tamparan oleh tuannya, dan sangat berbeda dengan saudaranya (tangan kanan) ketika melakukan "kebaikan" yang sama, saudaranya itu justru mendapat pujian selangit oleh tuannya.

"Sinting kaliq ni manusia, setiap kali aku melakukan tindakan baik selalu saja dihina dan dianggap tidak sopan, tapi kalau aku mengerjakan yang hina dan kotor mereka malah memujiku", katanya. Dan karena sudah tidak tahan dengan komen-komen yang ditujukan kepadanya setiap kali melaksanakan tugas "mulia", selalu saja dipandang sebelah mata. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara kepada "saudaranya", tangan kanan.

"Hai saudara, apa shi salahku dan apa kelebihanmu, mengapa aku begitu hina di mata tuan kita sementara engkau begitu mulia bagi mereka? Bukankah kita ini bersaudara, tetapi mengapa pekerjaanku selalu untuk urusan yang kotor saja dan tugasmu selalu yang baik, bahkan aku tidak boleh menyapa Allah kita karena itu adlah tugasmu???, tanyanya kepada tangan kanan.

"Ya namanya saja kiri, jadi takdirmu dah memang di kiri, yang memang kerjanya yang jelek dan kotor. Jadi terima saja", kata tangan kanan.

"Jadi kamu setuju dengan manusia yang mengata-ngataiku itu? Otakmu dan otak mereka sudah saatnya dicuci dan dibersihkan", katanya dengan sedikit kesal.

"Apa, otakku mau dicuci? Tidak salah, hahaha... otakmu yang harus selalu dicuci karena memang kau selalu berhadapan dengan yang kotor", kata tangan kanan mulai membela diri.

"Okey, sekarang jawab pertanyaanku. Apakah memang Tuhan kita mencipta aku dengan tugas hina seperti ini, dan saudara untuk tugas yang lebih terhormat? Bisakah kalian beri aku penjelasan mengapa harus seperti itu?", katanya dengan sedikit emosi.

"Dari tadi aku dah bilang karenanya saudara dicipta sebagai tangan kiri dengan kodrat jalan hidup kiri", kata tangan kanan. 

"Apa,... saudara bilang kodrat jalan hidup kiri? Jadi, apakah tidak boleh tugas saudara sesekali kita pertukarkan?"

"Lha iya lha iyalah. Pokoknya tugasku untuk yang baik-baik, yang terpuji, dan yang suci dan bersih. Misalnya:membuat tanda salib, merias wajah, mengucapkan salam, makan, dan seterusnya-dan seterusnya", kata tangan kanan mempertegas perbedaan di antara mereka.

"Oke, rupanya kendatipun kita bersaudara tetapi ternyata kita sendiri yang tidak saling menghormati, bahkan saudara sendiri mempertegas bahwa tugasku memang yang hina dan kotor, dan tugas saudara yang suci dan mulia. Saat ini pun aku mau bilang, terhitung detik ini aku mogok kerja, titik ...", kata tangan kiri dengan kesal.

Dikisahkan bahwa sejak saat itu, tangan kanan mengambil alih semua tugas yang selama ini mereka kerjakan bersama-sama. Sesekali tangan kanan mengeluh dan menangis. Tangan kiri yang mogok kerja hanya senyum-senyum saja dan dalam hati berkata, "Nah, sekarang rasakan kesombonganmu selama ini sebagai tangan terhormat".

Refleksi menarik:
Sangat sulit sekali untuk mengubah pola pikir kita. Lebih konyol lagi, ketika kita dalam posisi diuntungkan, kita cenderung mempertahankan alasan yang suci dan mulia lalu mulai melihat yang lain sebagai yang layak atas "hal yg tdk baik" di mata kita. Tidak jarang kita mengklaim sesuatu yang baik sebagai bagian dari diri kita dan yang kurang baik sebagai bagian dari orang lain, padahal sesungguhnya tidaklah demikian, tetapi karena kita dididik dalam asuhan seperti itu. 

So, mari memotivasi orang lain supaya mengerjakan tugas dan tanggungjawab dengan baik tanpa memandangnya hina dan kotor sebaliknya kita dedikasikan untuk yang lain demi kepentingan dan kebaikan bersama (bonum communae).***

Kawasan Wajib Bahagia

Sunyi yang Tidak Sepi

=Belajar dari Samurai Sejati=
(Remah-remah dari Pertapaan)
Ada lagu, "Sunyi sepi ku sendiri,..." Mungkin boleh dikatakan pencipta lagu tersebut mengambil salah satu dari dua situasi dalam kesunyian. Dalam kesunyian seseorang bisa mengalami kesepian, tetapi juga dalam kesunyian seseorang tidak jatuh dalam kesepian, atau bahasa negasinya "Sunyi yg tidak sepi". Maka mungkin akan menarik kalau kemudian dicipta sebuah lagu "Sunyi yang tidak sepi walau ku sendiri,...", hahaha. Siapa minat untuk mencipta lagu dengan judul tersebut, jangan lupa traktir aku kalau beredar kasetnya, karena aku dah bantu kasih ide, hahaha.

Di sore menjelang malam di atas buntu Bokin, kuingin "mencipa" sebuah kisah dalam kesunyian yang tidak sepi tersebut. Anda jangan mengidentikkan kesunyian dengan kesepian. Sunyi tidak identik dengan sepi dan sebaliknya. Kalau tidak percaya, akan aku tunjukkan contoh untuk itu. Anda mungkin biasa mendengar pedagang kaki lima berkata, "Hari ini pembeli di sini sepi sekali,...", padahal di sampingnya adalah penjual kaset musik rock atau pop yg memperdengarkan lagu-lagunya dengan volume spiker yg maksimum. 

Kesunyian tidak identik dengan kesepian, atau sunyi tidak identik dengan sepi. Itulah yang aku alami hampir setiap hari di pertapaanku, yang kemudian kusebut dengan Kawasan Wajib Bahagia Bokin. Kendati dalam kesendirian, tanpa televisi atau musik, plus tanpa suara manusia lain selain suaraku ketika berteriak karena terantuk oleh gelapnya malam atau memanggil "Mara" anjing peliharaanku untuk mendpatkan jatah makannya, atau sekedar memetik gitar sembari menyanyikan lagu-lagi kenangan, tetapi yang namanya kesepian hampir tidak aku rasakan. Di tengah kesunyian itu, aku larut dalam kerja dan kerja; mulai dari urusan Tuhan Allah sampai urusan dapur; dari altar, meja kerja sampai ke kebun dan kolam ikan, dll. Waktu berganti dari pagi hingga malam, dan seakan-akan aku tidak merasakannya, bahkan terkadang kurasa waktu 24 jam sehari tidaklah cukup.

Sore menjelang malam ini, yang terdengar adalah bunyi ayam-ayamku yang mulai naik bertengger ke atas pohon mangga samping rumahku, bunyi binatang malam yang indah merdu bagai musik pengiring nyanyian para serafim menyambut malam, berpadu dengan suara air yang jatuh ke dalam bak penampungan di samping dapurku. Tidak ada suara bising seperti yang kudengar kemarin-kemarin di kota Makassar. Tidak ada teriakan keras, "Gooolll,..." mereka yang menonton sepak bola. Tidak ada kisah suara musik atau suara televisi yang ribut-ribut menyorot politisi musang berbulu domba. Tidak ada suara karyawan yang mempersiapkan makan malam di refter (dapur) karena aku memang tinggal seorang diri di atas bukit yang jauh dari tetangga di lembah. Juga tidak ada suara masjid atau suara-suara ciptaan manusia. Yang ada hanyalah suara binatang malam dan anjing tetangga di seberang sana serta suara air gunung yang mengalir ke bak penampungan berjalan seiring berjalannya malam dalam kegelapan kampung kampung Bokin. 

Dalam suasana "super" sunyi itu, aku sama sekali tidak merasa kesepian, karena pekerjaan di meja kerja, dapur, dan OL dan membuat filem menantiku, hahaha. Situasi ini telah kulalui selama tiga tahun semenjak masa tugasku di bagian timur Toraja bernama Bokin. Dengan bantuan cahaya lampu PLN swadaya yang mati-hidup mati-hidup, yang baru satu tahun terakhir ini kami sambung dari kampung seberang dan tidak sanggup memutar musik tape atau televisiku yang memang ukuran besar, aku mencoba merangkai kata dan kalimat di malam hari, atau mencoba menyambung filem yang satu dengan yang lainnya bagai seorang tukang las sampai larut malam sehingga terkadang aku sendiri lupa waktu ternyata ayam jantan di samping sumahku berkokok tanda sudah subuh. Begitu terus setiap hari kalau aku tidak pergi melayani ke pedalaman dan pulang tengah malam mendapati rumahku dalam keadaan gelap gulita karena lupa men-on-kan lampu tenaga surya di bagian dapur dan ruang tengah rumahku.

Di tengah kesunyian yang tidak menghadirkan kesepian bagiku kurasakan betapa indahnya hidup di desa yang tidak panas, bebas nyamuk, dan bebas suara bising kendaraan dan suara-suara buatan manusia yang lain. Dengan ini aku bisa masuk dalam diriku sendiri untuk berbicara dengan diriku dan alam yang sunyi ini. Anda jangan tersinggung, aku tidak menuduh suasana bising sebagai suatu suasana dimana anda sulit berbicara dengan diri anda sendiri. Situasinya sesungguhnya sama saja. Kendati dalam kebisingan, kita bisa saja menciptakan kesunyian yang akan melahirkan ketenangan batin dan kebahagiaan. Tetapi bukan tidak mungkin juga dalam kebisingan kita berjumpa dengan kesepian yang sungguh-sungguh menyiksa. Dan sebaliknya di tengah kesunyian, kita bisa saja menciptakan suasana bising yang melahirkan kegalauan, tetapi bukan tidak mungkin pula untuk menemukan ketidaksepian yang membuahkan ketenangan batin dan kebahagiaan.

Maka sekarang aku mau mengatakan benang merah dari situasi apa pun yang dialami oleh manusia;" Bahwa entah dalam kebisingan atau kesunyian, kita bisa menciptakan suasana yang bisa melahirkan ketenangan batin dan kebahagian, dan atau sebaliknya bahwa entah suasana kesunyian atau kebisingan kita pun bisa terjatuh dalam suasana galau tidak menentu". So, kunci rahasianya ada di tangan masing-masing orang; mau mensyukuri situasi yang ada atau "bermimpi" untuk mengubahnya, kalau yang terakhir maka bersiaplah untuk bertarung dengan kegalauan dan rasa penyesalan yang tsk tersembuhkan. Untuk masuk dalam situasi apa pun, belajarlah dari seorang "Samurai sejati", yang tugasnya hanya berlatih dan berlatih dengan senjata super tajam di mana ia sendiri tidak pernah berpikir bahwa apakah latihan pedang yang ia lakukan akan menghasilkan kemenangan atau justru berbuah maut. Lalu apa habenya (hubungannya)? Temukan HBny dalam suasana sunyi yang tidak sepi kendati anda sedang berada di tengah kota Metro yang bising***

Kawasan Wajib Bahagia

Kamis, 21 Februari 2013

Surat “Hati” seorang anak sekolah dari pedalaman Untuk Tuan Presiden, Gubernur, Bupati





Surat “Hati” seorang anak sekolah dari pedalaman
Untuk Tuan Presiden, Gubernur, Bupati
CQ Pemerhati Pendidikan
Di Tempat

Tuan-tuan yang terhormat,
Perkenalkan aku seorang anak sekolah dari pedalaman. Usiaku sudah remaja dan sebentar lagi aku pergi ke kota untuk melanjutkan sekolah. Tetapi terus terang saja, aku sedikit minder membayangkan bagaimana nanti kalau aku sekolah di kota. Bahasa Indonesiaku patah-patah, apalagi yang namanya bahasa asing. Keterampilanku di bidang komputer nol, karena “takdir” membuat daerah kami terpencil dan terlupakan. Setiap hari aku jalan kaki ke sekolah sekitar 7 Km. Jadinya setiap hari untuk urusan sekolah aku harus rela jalan kaki 14 Km. Maka dalam satu tahun 365 hari dikurang hari Minggu 54 hari dikurang hari libur 40 hari, sedikitnya aku harus jalan kaki PP 271x14= 3.794 Km dikali 3 tahun selama di sekolah menengah pertama, jadinya akulah pemegang rekor dunia yang pernah jalan kaki pulang pergi ke dan dari sekolah menengah dengan jarak tempuh 11.382 Km. Syukur-syukur aku tidak pernah ketinggalan kelas. Kalau tidak, maka selama di sekolah menengah aku menempuh jarak 15.176 Km. Sungguh jarak yang tidak dekat. Dengan kata lain selama di SMP aku berhasil mengelilingi pantai Sulawesi. Tetapi apa yang aku dapat???


Tuan-tuan jangan terkejut, aku sedikit minder untuk pergi ke kota dan bersaing dengan teman-teman dari daerah lain. Di SMP aku tidak pernah mengenal yang namanya komputer. Mohon tuan-tuan jangan tertawa, karena ini sebuah realita yang kami alami di pedalaman. Oh iya, listrik swadaya sudah masuk di sekolah kami selama satu tahun lebih, tetapi sampai sekarang yang namanya pegang komputer apalagi mempelajarinya sungguh-sungguh hanyalah mimpi indah kami. Terbayang di mataku sebuah masa depan yang kabur, terbayang di depanku bagaimana akhir dari perjalanan panjang ini yakni pulang ke kampung melanjutkan profesi kakek-nenek dan orang tuaku.


Karena itu, tuan-tuan yang terhormat; tuan presiden, tuan gubernur, tuan bupati, dan tuan-tuan yang peduli dengan pendidikan, sesungguhnya kami rindu untuk belajar dan mengenal komputer yang “katanya” menjadi sarana yang baik untuk sekolah, tetapi aku hanya mau bilang, “Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”. Dan tuan-tuan tolong jangan bilang wOOWw githu,…!!!


Salam dan hormatku,
(Seorang anak desa)
Oleh Pastor Yans Sulo Paganna'

Rabu, 20 Februari 2013

Busana Yang Pantas Untuk Pergi Ke Gereja

oleh: P. A.G. Tri Budi Utomo *

Meskipun jaman sudah modern, namun diskusi tentang kesopanan (etiket) dalam penampilan ketika beribadah tetaplah hangat dibicarakan. Kesopanan atau etika dalam penampilan adalah cerminan penghargaan diri terhadap martabat diri dan siapa yang dihadapi. Kalau di Google kita ketikkan frasa 'sopan di gereja' maka dalam jangka waktu setengah detik muncul 1.010.000 (satu juta sepuluh ribu) tulisan yang membahasnya. Kalau kita spesifikkan lagi menjadi: 'pakaian sopan di gereja' maka muncul 624.000 tulisan. Luar biasa. Kesopanan tetap menjadi tema yang mengusik nurani dan sikap beribadah ribuan orang.

Nampaknya ada gejala yang cukup signifikan bahwa masyarakat kita sedang mengidap wabah yang bernama "INYORANSIA" (ignorantia), artinya: ketidakmampuan membedakan dalam menempatkan diri pada suatu keadaan / ruang. Misalnya, tidak tahu membedakan antara: ruang publik dan ruang privat, urusan bisnis dan pelayanan, urusan beribadah dan rekreasi, ekaristi dan hiburan, terhadap orang tua dan terhadap teman, terhadap Tuhan dan terhadap manusia, dan sebagainya. Terhadap gejala tersebut ada orang yang berpendapat bahwa itu merupakan tanda (sinyal) memudarnya peran orangtua sebagai pembentuk kepribadian anak, ada yang berpendapat bahwa institusi pendidikan yang semakin pragmatis dan materialistis, ada juga yang berpendapat bahwa budaya sensualisme telah meresapi semua aspek kehidupan, atau telah terjadi merosotnya penanaman nilai dalam institusi keagamaan.

Sungguh menarik, bahwa di pertemuan Dewan Pastoral Paroki dan BGKP St Yakobus akhir bulan Mei 2012 yang lalu, hangat di bicarakan tentang etika berpakaian serta penggunaan HP di dalam Gereja. Maka disepakati dan diputuskan untuk: selama bulan Juni di setiap Misa diumumkan ajakan untuk berpakaian sopan, tidak menggunakan HP dan tidak makan selama mengikuti Ekaristi. Tentu keprihatinan itu juga terjadi di paroki-paroki lain.

Katekismus Gereja Katolik (nomor 1387) menasihatkan Supaya kita mempersiapkan diri secara wajar / layak (properly) untuk menerima Sakramen Ekaristi. Umat beriman perlu memperhatikan pantang serta sikap (gerak-gerik, pakaian) selama beribadah sehingga terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus bersatu dengan kita. Kristus menjadi tamu agung sekaligus tuan (bahkan Tuhan) kita.

Gereja adalah bait kudus. Dari kata Ibrani 'Qadosh', artinya dikhususkan, bukan hal yang generik disama-ratakan dengan tempat lain pada umumnya. Ruang kudus berarti ruang itu memang disepakati dan difungsikan sebagai KHUSUS bagi Tuhan, sehingga segala peralatan dan perilaku dan penampilan juga disiapkan secara khusus. Dipilih menjadi istimewa memang karena khusus untuk Tuhan, dengan kata lain 'hak milik Tuhan'. Maka hari Sabat dan hari-hari raya keagamaan disebut sebagai hari kudus karena pada hari tertentu itu seluruh waktu di-KHUSUS-kan bagi Tuhan. Maka tidak mengherankan di tempat-tempat suci / keramat (di Yerusalem, di Bali, bahkan juga ada kesaksian di beberapa gereja Katolik di China) yang menyediakan peminjaman kain penutup / scarf bagi pengunjung yang memakai celana pendek, rok mini atau tank-top. Ini adalah masalah kelayakan dan sikap penghormatan terhadap martabat tertentu.

Seorang perancang busana terkemuka, Anne Avantie, sering kali memberi ceramah di berbagai gereja karena dia prihatin tentang cara berbusana yang kurang tepat dari para jemaat. Menurutnya sudah saatnya Gereja memberikan perhatian khusus untuk membenahi umat dalam etika berbusana ketika memasuki rumah Tuhan. Pada tanggal 24 September 1956, Vikjen Vatican era Paus Pius XII mengeluarkan edaran yang mengatur tentang detail syarat pakaian yang dianggap layak untuk beribadah di gereja yakni baju berkerah terbuka tidak lebih dari dua jari dari pangkal leher menutup pundak (bahu) dan lengan dengan bawahan menutup lutut.

Adalah sungguh sangat baik kebiasaan di keluarga untuk mempersiapkan anak-anak sebelum berangkat pergi ke Misa dengan sikap lahir dan batin secara benar. Sejak anak-anak dijelaskan bahwa ke gereja adalah berkunjung ke rumah Tuhan, kalau ke pesta saja kita memilih baju yang pantas untuk pesta, maka ke gereja pun juga memilih baju yang pantas untuk menghadap Tuhan. Demikian pula bagaimana sikap kita ketika memasuki gereja dan ketika peribadatan berlangsung. Pengajaran semacam itu membangun kepribadian dan iman anak. Penampilan kita merupakan cermin bagaimana kita menempatkan Tuhan Yesus dalam diri kita.

Sikap hormat dan etika berpakaian tersebut tentu bukan hanya berlaku pada saat Misa Minggu tetapi juga pada saat Misa Harian, Perayaan Sakramen lain (misalnya pemberkatan pernikahan dan pengakuan dosa), saat doa / misa lingkungan, pendalaman iman dan ibadat devosional (gua Maria, adorasi, meditasi). Sangat bagus bahwa di kapel adorasi pastoran Yakobus disediakan kain / scarf penutup bagi yang memerlukan atau merasa bahwa pakaian yang dipakainya bisa mengganggu atau membiaskan sikap doa orang lain.

Dalam perdebatan tentang etika berpakaian seringkali berkembang pada sensitif gender (menyalahkan kaum wanita), yang salah sebenarnya mata yang melihat, yang penting adalah sikap batin, mengapa agama kok ngurusin masalah pakaian, terlalu kolot tidak mengikuti perkembangan jaman, dsb. Menekankan sisi batin (mengatakan: yang penting aku tidak bermaksud jahat!) dan menunjuk bahwa pihak lain yang salah, merupakan sikap yang tidak tepat dalam ajaran moral. Baik kalau kita menyimak bahwa tata lahir sama pentingnya dengan tata batin. Dalam ajaran Gereja dijelaskan bahwa sikap manusia ada tiga jenis: sikap kasih (charity), sikap salah (jahat, dosa atau sin / evil) dan sikap lalai (sin by omission) .

Yang termasuk sikap kasih adalah:
a. mengatakan / melakukan kebenaran demi keselamatan, sukacita dan kesejahteraan;
b. mengingatkan sesama agar melakukan apa yang benar dan berkenan bagi Tuhan;
c. mewartakan ajaran iman agar sesama menjadi orang katolik yang lebih baik;
d. menolong sesama agar mereka semakin menghormati, mengalami sukacita dan mencintai Tuhan.

Yang termasuk sikap jahat / salah adalah:
a. menyalahkan orang lain karena merasa senang / bangga jikalau dapat menyalahkan;
b. dengan sengaja: tahu, mau dan sadar melakukan sesuatu yang berlawanan dengan ketentuan yang berlaku;
c. menghalang-halangi orang lain untuk mengalami kebenaran, sukacita dan kasih Tuhan.

Yang termasuk dosa kelalaian (sin by omission) adalah:
a. tahu tentang apa yang benar dan baik, tetapi memilih untuk tidak melakukan yang baik dan benar;
b. melakukan sesuatu yang menyebabkan / memudahkan orang lain jatuh dalam kesalahan / dosa;
c. membenarkan diri dengan menyalahkan orang / pihak lain

Kiranya masalah etika berpakaian dan perilaku salah di dalam gereja sangat sedikit orang yang dengan sengaja dan terencana memamerkan keindahan tubuh atau mode pakaian supaya orang lain (terutama yang masih dangkal iman) jatuh dalam pencobaan. Hemat saya, kebanyakan dari jemaat memang belum tahu (ignorantia) membedakan dan menempatkan diri karena sangat sedikit diajarkan, baik di lingkungan rumah tangga ataupun sekolah dan dalam pergaulan. Maka sangat baik jikalau kita mulai mengenal dan mengajarkan apa yang baik, benar dan berkenan bagi Allah. Hendaklah kita sekalian juga tidak jatuh dalam dosa kelalaian dengan tidak mewartakan apa yang baik dan benar ini. Mari kita mulai dari diri kita masing masing, dari keluarga kita lalu di paroki kita untuk saling mengingatkan satu sama lain. Mulai sekarang kita belajar menguduskan hati, tindakan, dan penampilan kita di saat kita menghadap Tuhan. Tentu ini bukan soal kemewahan dan mode pakaian, melainkan soal sikap penghormatan dan penghargaan akan martabat Tuhan yang kita sembah dan muliakan.

Tuhan memberkati setiap usaha baik Anda.


CATATAN APLIKATIF:

Karena ada permintaan kepada saya untuk menjelaskan dengan lebih konkrit, kiranya beberapa poin yang saya kumpulkan dari berbagai informasi baik lisan maupun internet di bawah ini bisa dipakai sebagai ukuran praktis:

1. Atasan model offshoulder biasanya digunakan untuk ke pesta, dan akan kurang sopan apabila dikenakan ke gereja. Apalagi dengan potongan dada yang rendah. Juga tali bra yang seharusnya berfungsi sebagai pakaian dalam, malah ditampilkan di luar. Pundak dan bahu tertutup adalah pakaian yang sopan.
2. Tank top atau blouse U can C, apapun alasan pemakaiannya sangatlah tidak tepat dikenakan ke gereja. Jika tetap akan dikenakan, lebih baik bila dikombinasikan dengan bolero, blazer, cardigan, selendang, atau scarf.
3. Apabila akan menggunakan atasan dengan lubang di punggung dan tanpa lengan, atau baju dengan potongan dada rendah sebaiknya mengenakan scarf. Termasuk di sini pakaian di dalam pesta perkawinan hendaknya dibedakan dengan pakaian mempelai saat pemberkatan pernikahan di gereja. Tentu pakaian mempelai ketika menerimakan sakramen suci juga dipilih yang layak / pantas dengan menghiraukan ketentuan diatas.
4. Celana hipster dengan atasan yang pendek, sehingga apabila berlutut atau duduk akan tampak bagian yang tidak layak dipertontonkan, tentulah sangat mengganggu orang yang ada di belakangnya.
5. Baju tipis (kain transparan) yang memamerkan bentuk dan warna pakaian dalam, tidak layak untuk dipertontonkan di gereja.
6. Bawahan yang pantas dipakai disarankan di bawah lutut, atau sekurang-kurangnya menyentuh lutut.
7. Celana pendek tidak dikenakan kecuali oleh anak kecil. Namun adalah sangat mulia jikalau sejak kecil anak dilatihkan untuk memakai celana panjang saat pergi menghadap Tuhan di gereja.
8. Sandal japit sudah menjadi pemahaman umum bukanlah alas kaki yang pantas untuk ke gereja.
9. Topi yang tidak dimaksudkan dibuat untuk peribatan hendaknya tidak dipakai di dalam gereja.
10. HP sebaiknya dimatikan saat misa berlangsung. Tidak pada tempatnya menerima telepon, ber-SMS, apalagi bermain games dalam gereja.
11. Tempat untuk bersujud bukan merupakan alas untuk sepatu dan sandal.

Sumber: http://www.indocell.net/

Selasa, 12 Februari 2013

Dalam 1.000 Tahun, Hanya 5 Paus yang Mundur

Foto : Paus Benediktus XVI (Reuters)

ROMA - Paus Benediktus XVI bukanlah seorang Pemimpin Gereja Katolik pertama yang mengakhiri jabatannya dengan mengundurkan diri. Sejarah Vatikan mencatat, ada beberapa Paus yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan.

Tepat pada Senin kemarin, Paus mengumumkan bahwa pada 28 Februari 2013, dirinya akan meninggalkan jabatannya di Vatikan. Paus Benediktus menjadi Paus pertama yang mengundurkan diri setelah 600 tahun. Beberapa orang Paus yang melakukan hal yang sama dengan Paus Benediktus antara lain adalah:

Paus Benediktus IX (1032 - 1048)

Paus Benediktus IX terlahir dengan nama Theophylactus dari Tusculum. Pria itu tak lain adalah keponakan dari Paus Benediktus VIII dan Yohanes XIX. Menurut Ensiklopedia Katolik, Theophylactus diangkat menjadi seorang Paus saat usianya masih 20 tahun, namun beberapa sumber mengklaim bahwa Theophylactus sudah menjadi Paus saat usianya masih 10 tahun.

Pria itu sempat mengatakan, dirinya mendapat jabatan sebagai Paus karena keluarganya. Ayah Theophylactus menerima kursi kepausan, namun memutuskan untuk menyerahkannya ke putranya pada Oktober 1032.

Paus Benediktus IX juga menjadi Paus pertama yang mengundurkan diri dari jabatannya pada usia 30 tahun. Di bawah kepemimpinan Paus Benediktus IX, muncul isu-isu mengenai skandal gereja seperti halnya pemerkosaan, pembunuhan, dan lainnya. Paus Benediktus IX juga sempat dipaksa keluar dari Roma pada 1036 dan 1044 silam, namun berhasil kembali dengan bantuan politik. 

Paus Gregory VI (1046)

Paus Gregory VI naik tepat setelah Paus Benediktus IX mundur. Namun masa jabatan dari Paus yang lahir dengan nama Johannes Gratianus itu tidak berlangsung lama. Seperti diketahui, Paus Gregory VI adalah bapak pemandian bagi Paus Benediktus IX yang merupakan pendahulunya. 

Sejumlah Uskup memaksa Gregory VI untuk mengundurkan diri terkait munculnya skandal penyuapan. Meski membantah isu skandal itu, Gregory VI sepakat mundur. Dan pada 1408 Paus Gregory VI meninggal dunia.

Paus Selestinus V (1215 - 1296)

Pasangan Angelo Angelerio dan Maria Leone yang bermukim di Kota Sant'Angelo Limosano, Kerajaan Sisilia, melahirkan seorang putranya yang bernama Pietro Angelerio. Namun Angelo Angelerio tidak bisa menyaksikan putranya tumbuh dewasa, usai Angelo meninggal dunia, Maria Leone memutuskan untuk membesarkan putranya.

Maria Leone menjadi ibu sekaligus pembimbing spiritual bagi Pietro kecil. Maria selalu membayangkan, di masa yang akan datang, putranya akan menjadi petani atau penggembala. Puietro Angelerio tumbuh menjadi seorang yang cerdas dan alim. 

Di usianya yang ke-20, Pietro Angelerio menjadi seorang rahib dan berhasil membentuk sebuah ordo kerahiban. Dan tepat setelah berusia 84 tahun, Pietro diangkat sebagai Paus Selestinus V. Paus Selestinus V mengundurkan diri pada 13 Desember 1294 silam. Dan kekuasaan itu diteruskan oleh Paus Bonifatius VIII. 

Paus Gregory XII (1406 - 1415)

Lahir dengan nama Angelo Corraro, pria ini menjadi Paus Gregory XII pada 1406 silam. Di masa pemerintahan Paus Gregory XII, ada tiga orang yang mengklaim dirinya sebagai seorang Paus. Dalam sejarah Katolik, masa itu dianggap sebagai Skhisme Barat. 

Kemunduran Gregory XII ditujukan untuk memecahkan konflik antara pria-pria yang mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Gereja Katolik. Paus Gregory XII juga dinobatkan sebagai Paus trakhir yang mundur dari Vatikan, sebelum Paus Benediktus XVI yang baru saja memutuskan untuk mundur. Demikian, seperti diberitakan New York Daily News, Selasa (12/2/2013).

Di saat konflik besar itu melanda Gereja Katolik, beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai Paus kerap disebut dengan julukan Anti-Paus. Dua orang di antara mereka adalah Anti-Paus Benediktus XIII dari Avignon dan Anti-Paus Yohanes XXIII dari Pisa.

Paus Benediktus XVI

Paus yang lahir dengan nama Joseph Aloisius Ratzinger adalah seorang warga negara Jerman. Pria itu diangkat menjadi Pemimpin Gereja Katolik pada 2005 menggantikan Paus Yohanes Paulus. Ratzinger muda sempat mengikuti dinas wajib militer di bawah pimpinan Adolf Hitler, pada 1941 silam. 

Ratzinger juga sempat berperang melawan pasukan sekutu, namun Ratzinger memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya di Traunstein. Pada 1951 silam, Ratzinger memulai karier barunya di bidang akademik dan menjadi profesor di Universitas Bonn. Dan pada 1962, Ratzinger mulai berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan di Vatikan.

Pada saat itu, Ratzinger menjabat sebagai seorang konsultan teologi untuk Kardinal Frings dari Colonge. Pada 24 Maret 1977 Ratzinger yang semakin mendalami agama Katolik dan aktif di institusi keagamaan, ditunjuk menjadi Uskup Agung Munich dan Freising. 

Pujian pun terus bermunculan terhadap kinerja Ratzinger di bidang keagamaan. Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar Ratzinger, sebagai seorang yang sempurna. 

Lewat sebuah Konklaf usai Paus Yonahes Paulus II meninggal dunia, Ratzinger akhirnya dinobatkan menjadi Paus Benediktus XVI. Kiprahnya sebagai Pemimpin Gereja Katolik juga cukup berpengaruh. Pria itu pun menorehkan prestasinya lewat kunjungannya ke Amerika Latin maupun ke Timur Tengah.

Tepat pada Senin kemarin, pria ini memutuskan untuk mundur dari jabatan pada 28 Februari karena kesehatannya yang memburuk. Di usianya yang ke-85, Paus Benediktus mengaku bahwa tugas yang diembannya sangat berat.

Warga Amerika Latin & Afrika Berpotensi Jadi Paus?


PARIS - Kabar mengenai rencana kemunduran Paus Benediktus XVI pada 28 Februari mendatang cukup mengejutkan dunia. Muncul pula kabar yang menyebutkan bahwa tidak menutup kemungkinan, seorang warga non-Eropa akan ditunjuk menjadi Pemimpin Gereja Katolik.

Sejauh ini, Amerika Latin merupakan wilayah yang dipenuhi oleh miliaran warga Katolik. Dua orang pejabat di Vatikan menginformasikan kabar mengenai suksesi Paus dan secara tidak langsung, mereka memberitahu ke dunia, Paus berikutnya tampaknya berasal dari Amerika Latin.

"Saya sangat mengenal uskup dan kardinal-kardinal dari Amerika Latin yang sanggup mengemban tanggung jawab memimpin Gereja universal," ujar Uskup Agung Gerhard Mueller, seperti dikutip Reuters, Senin (11/2/2013).

"Gereja universal mengajarkan bahwa Kritianitas tidaklah berpusat di Eropa," imbuhnya. 

Sementara itu, Kardinal Kurt Koch juga memiliki pendapat yang sama dengan Mueller. Koch turut membahas munculnya kandidat-kandidat Paus yang berasal dari Afrika atau Amerika Selatan.

Bila memang seorang warga Amerika Latin yang akan menjadi Pemimpin Gereja Katolik selanjutnya, seorang kardinal asal Brasil, Odilo Scherer, dipastikan menjadi kandidat kuat. Selain Scherer, adapula Leonardo Sandri yang merupakan seorang keturunan Italia dan Argentina. Sandri saat ini memimpin Departemen Vatikan untuk Gereja Timur.

Gelar kandidat kuat asal Afrika tampaknya akan disandang oleh Peter Turkson. Pria asal Ghana itu saat ini menjabat sebagai Pimpinan Departemen Hukum dan Perdamaian Vatikan.

Seperti diketahui, Paus Benediktus XVI adalah seorang warga Jerman. Paus Yohanes Paulus II yang menjabat sebelum Paus Benediktus juga merupakan seorang warga Eropa, tepatnya adalah Polandia

Inilah Kandidat Potensial Pengganti Paus Benediktus

Paus Bendeiktus ke-XVI (Foto: Reuters)

VATIKAN - Teknisnya, siapapun laki-laki Katolik sangat memenuhi syarat untuk menjadi paus. Tetapi, secara tradisi para kardinal akan memilih paus dari kalangan mereka. Hanya para kardinal inilah yang tahu siapa yang akan menjadi paus selanjutnya.

Kini Tahta Suci Vatikan tentunya tengah disibukan dengan pengganti dari Paus Benekdiktus XVI. Sebelumnya Paus Benediktus memutuskan untuk mundur terhitung mulai 28 Februari mendatang. 

Bagi para Pangeran dari Gereja - para kardinal- pengumuman pengunduran diri dari seorang paus sangat mengejutkan daripada berita kematian salah seorang dari mereka. Kardinal-kardinal inilah yang harus memilih paus berikutnya. 

"Saya kira mereka (kardinal) akan mencari sosok yang memiliki kebijaksanaan seperti Paus Benediktus dan dengan kombinasi karisma dari Paus Yohanes Paulus II," ujar Kardinal Theodore McCarrick, seperti dikutip CBS News, Selasa (12/2/2013).

Pada sistem politik Vatikan yang rumit, tidak ada calon jelas sebagai pengganti Paus Benekditus. Tetapi, pihak gereja melihat masa depan mereka berada di tangan tokoh yang berada di dunia ketiga. Para kardinal akan memutuskan apakah paus berikutnya berasal dari negara dunia ketiga.

Kardinal Peter Turkson dari Ghana dianggap sebagai kandidat potensial dari Afrika. Tetapi kardinal berusia 64 tahun itu, tersandung masalah hubungan gereja dengan kelompok Islam di Ghana. Pada akhirnya, Turkson dilihat sebagai kandidat yang beresiko.

Salah satu kandidat potensial lainnya datang dari Amerika Latin. Uskup Agung Sao Paolo, Brasil, Kardinal odilo Pedro Scherer dianggap sebagai sosok kandidat yang memiliki peluang menggantikan Paus Benediktus ke-XVI. Tetapi sepertinya pihak gereja belum sepenuhnya siap mendukung seorang paus dari Amerika Selatan. Kardinal berusia 63 tahun itu hanya dinilai sebagai calon di masa mendatang.

Ada peluang juga Uskup Agung New York, Kardinal Timothy Dolan menjadi pengganti Paus Benediktus. Tetapi kandidat dari Amerika harus menghadapi penolakan tradisional untuk memiliki paus yang berasal dari negara super-power.

Pada akhirnya, pihak Tahta Suci Vatikan memilih sosok Italia untuk memimpin gereja Katolik, maka Kardinal Angelo Scola menjadi sosok yang populer. Uskup Agung Milan itu juga menjadi kandidat potensial bersama dengan Gianfranco Ravasi. 

Tetapi, pada umumnya pemilihan paus akan lebih berpengaruh dari pendekatan bukan dari isu geografi. Tetapi, meski terlihat rumit Tahta Suci Vatikan mampu mengatasinya seperti disaat pergantian Paus Yohanes Paulus ke-II kepada Paus Benediktus ke-XVI.

Sumber: http://international.okezone.com

Bagaimana Gereja Katolik Mengurus Mantan Paus?

Paus Bendeiktus ke-XVI mundur akhir Februari (Foto: Reuters)

VATIKAN - Keputusan Paus Benekditus ke-XVI untuk mundur dari Tahta Suci Vatikan mengejutkan banyak pihak. Kini timbul pertanyaan, bagaimana pihak Vatikan mengurus mantan Paus, karena selama ini Paus turun tahta karena tutup usia?

Selama kurang lebih enam abad, pada umumnya paus yang baru menggantikan paus terdahulu yang telah wafat. Tetapi keputusan Paus Benediktus mengubah semua hal tersebut.

Keputusan ini menimbulkan teka-teki yang tidak pernah dihadapi oleh Gereja Katolik selama berabad-abad. Bagaimana mereka menghadapi mantan paus yang masih hidup?

Selama 2.000 tahun sejarah gereja, baru dalam enam abad terakhir sejak 1415 lalu seorang paus memutuskan mundur. Kondisi ini menimbulkan potensi kesulitan bagi Vatikan. Demikian diberitakanChristian Science Monitor, Selasa (12/2/2013).

Karena setelah tidak lagi menjabat sebagai paus, Paus Benediktus bisa saja menjadi alternatif lain bagi pihak yang merasa tidak puas terhadap penggantinya. Tidak hanya itu, Paus Benekditus bisa juga terlibat perbedaan pendapat dengan penggantinya.

Tetapi menurut seorang juru bicara Vatikan Paus Benediktus akan tetap berada di lingkungan Vatikan. Namun menurut perkiraan, pria Jerman yang kini berusia 85 tahun itu akan menghabiskan sisa hidupnya dengan berdoa dan terus belajar.

Mengenal Konklaf sebagai Ritual Pemilihan Paus


Paus Bendeiktus ke-XVI mundur akhir Februari (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pemilihan paus yang baru ditentukan oleh konklaf. Ritual pemilihan paus baru ini, tidak pernah berubah sejak delapan abad.

Adapun Paus Gregorius ke-X yang pertama kali menggunakan konklaf pada 1274 silam. Saat itulah Paus Gregorius menetapkan landasan untuk sebuah konklaf.

Konklaf dimulai antara 15 hingga 20 hari setelah wafatnya Paus. Namun batas waktu ini ditetapkan pada abad pertengahan di mana perjalanan menuju Roma memakan waktu lama. Tetapi hingga detik ini, batas waktu tersebut tetap berlaku dengan maksud memberikan kesempatan bagi para kardinal untuk bertukar pikiran.

Waktu jeda yang disebut Novemdiales ini, biasanya digunakan oleh para kardinal membahas mengenai keadaan gereja. Bahkan meskipun tidak diharuskan, masa Novemdiales juga ditujukan untuk membahas paus baru.

Periode ini berakhir dengan misa Pro Eligendo Papa, yang dihadiri oleh semua Kardinal dari seluruh dunia di Basilika Santo Petrus. Kemudian, pada pagi harinya dimulailah konklaf. Setelah itu, para anggota Kardinal pemilih menuju Kapela Sistina tempat berlangsungnya proses pemilihan Paus baru.

Dengan didampingi paling banyak dua asisten, para Kardinal tidak boleh membawa alat komunikasi apapun ke dalam tempat pemilihan dan tidak boleh berkomunikasi keluar dengan siapapun. Setelah misa di Kapela Sistina para asisten keluar dan kapela dikunci. Para Kardinal selanjutnya mengadakan pemilihan secara rahasia.

Setiap pembocoran mengenai tendensi atau sirkumstansi pemilihan dihukum dengan ekskomunikasi. Setiap orang katolik yang sudah dibaptis dari jenis kelamin laki-laki dan lebih dari 30 tahun boleh dipilih sebagai Paus, meskipun selalu terpilih salah satu Kardinal.

Untuk memilih seorang Paus harus memenuhi 2/3 suara dari para Kardinal pemilih yang berumur kurang dari 80 tahun jumlah kardinal bisa ditambah satu bila jumlah para Kardinal bukan kelipatan tiga.

Selama pemilihan, para Kardinal diserahkan sebuah buletin dari kertas putih Eligo in summum pontificem, dengan tempat untuk menuliskan nama paus yang ingin dipilih. Dituntut tulisan jelas dan dengan huruf besar. Setelah diisi, para Kardinal membawa buletin sedemikian sehingga terlihat jelas di tangan dan dimasukkan ke dalam kotak yang disediakan di depan altar.

Di akhir setiap pemilihan, buletin-buletin pemilihan dibakar dengan ditambahkan bahan kimia yang akan mengeluarkan asap putih atau hitam tergantung dari hasil pemilihan, sudah atau belum terpilihnya Paus baru. Cerobong asap ini terlihat jelas dari lapangan Santo Petrus di mana biasanya dipenuhi orang untuk menantikan hasil pemilihan Paus baru.

Ketika terpilih seorang Paus baru, Dekan para Kardinal, yang memimpin proses pemilihan, menanyakan calon terpilih apakah ia bersedia menerima jabatan ini. Apabila jawabannya positif, ditanyakan nama apakah yang akan digunakan selama masa jabatannya. Selanjutnya diadakan sebuah prosesi bernama Habemus Papam.

Habemus Papamadalah pengumuman yang dikeluarkan oleh Kardinal Protodiakon tentang hasil pemilihan paus dalam Konklaf Pengumuman ini dilakukan dari atas balkon Gereja Santo Peter di Vatikan. Setelah pengumuman, paus yang baru akan keluar dan menyampaikan khutbah pertamanya yang berjudul Urbi et Orbi.

Sumber: http://international.okezone.com

Selasa, 11 Desember 2012

Santa Claus


Semarak Perayaan menjelang Natal sudah mulai dirasakan ketika kita memasuki bulan Desember. Bahkan diluar negeri seperti Negara-negara Eropa dan Amerika hampir tiap harinya diselenggarakan lomba-lomba menyambut hari Natal. Contohnya di Amerika yang dimulai dengan parade thanksgiving dan Natal yang diselenggarakan oleh salah satu pusat perbelanjaan terbesar di New York, Lomba lari sambil membawa Christmas pudding di London, dan kemaren di kota Dresden, German diadakan pembuatan kue natal terbesar yang harus digiring ke tengah kota dengan menggunakan kereta unik khas Natal. 

Minggu, 29 Juli 2012

Utusan Yesus

        "ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan"






         Salah satu profesi sampingan saya adalah sebagai wartawan musik, khususnya jazz. Dalam event-event jazz biasanya saya ikut meliput atau wawancara, baik sendiri atau terkadang bareng rekan dari radio. Suatu kali saya ngobrol dengan rekan saya dari sebuah radio, dia berkata sedang menunggu free pass untuk masuk ke sebuah event jazz. Harga tiketnya sendiri sebenarnya cukup murah, tapi dia hanya mau datang jika mendapatkan tiket gratis atau free pass. "gue nggak mau keluar duit, ini kan tugas, ya harusnya difasilitasi dong.." begitu kira-kira katanya. Fasilitas itu bukan cuma kesempatan masuk gratis, tapi juga ongkos lainnya alias uang jalan. Saya rasa apa yang ia katakan masuk akal, karena untuk urusan itu tentu ada beberapa ongkos yang harus ia keluarkan selama perjalanan. Bagi anda yang mengutus salah seorang pegawai untuk mengantar barang atau menyampaikan sesuatu pada orang lain juga pastinya harus memberikan ongkos atau uang saku untuk dijalan. Ini bukan hal aneh, bukan hal unik, bukan hal baru, tapi merupakan hal yang hampir setiap saat kita lakukan. Yang unik justru ayat bacaan hari ini, ketika Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk tugas seperti yang dilakukan Yesus.
          Apa yang dilakukan Yesus cukup unik. Dia mengutus murid-muridNya berdua-dua alias berpasangan, dan melarang mereka membawa apapun, termasuk bekal dan uang. Ini bentuk utusan Tuhan, untuk sebuah tugas Ilahi. Kalau dipikir-pikir, untuk tugas biasa dari atasan yang orang biasa juga kita akan protes kalu ditugasi tanpa dibekali apa-apa. Katakanlah orang yang diutus pemimpin sebuah negara, dia pastilah harus tampik rapi, kalau bisa dengan stelan jas mewah dan berpenampilan ekstra keren. Bagaiman dengan sebuah tugas dari Tuhan? Tuhan Yesus malah melarang utusan-Nya membawa bekal.
          Sepintas mungkin aneh, tapi kalau kita cermati baik-baik, Tuhan Yesus mengajarkan tiga hal penting. Satu, Yesus mendidik para muridNya untuk percaya sepenuhnya pada Dia. Tidak begantung pada harta, materi dan atribut-atribut duniawi lannya, tapi berharap penuh pada apa yang diseidiakan Allah buat mereka. Kedua, segala kemewahan mudah untuk membuat orang berubah menjadi sombong. tapi sebagai murid Yesus, yang selalu berpengang pada kasih setia Allah akan terhindar dari kesombongan. Ketiga, Yesus tahu bahwa sebagai manusia, para murid-muridNya, termasuk kita, bisa setiap saat menjadi lemah, terkadang bisa hilang motivasi, lelah dan sebagainya, maka Dia mengutus berpasang-pasangan, bukan sendirian, agar bisa saling membantu dan menguatkan.
          Tugas mewartakan kasih Tuhan Yesus, mewartakan siapa pribadi Yesus kepada saudara-saudara kita bukanlah tugas ringan. Tapi bukan pula tugas yang tidak mungkin dilakukan. Jika kita mengalami kasih Yesus dan bersungguh-sungguh dalam komitmen mengabarkan injil, kita pun akan mendapat kekuatan dari Allah, Kita tidak akan pernah ditinggalkan sendirian, kita juga akan dilengkapai dengan kuasa-kuasa yang siap dipakai untuk memgemban tugas Amanat Agung. Apakah dengan sungguh-sungguh. tidak perlu takut atau malu dalan mewartakan Injil, tidak perlu ragu, atau merasa tidak sanggup, karena kuat kuasa Tuhan akan selalu beserta kita setiap saat.

Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua (AMIN)