Translate

Tampilkan postingan dengan label insiprasi MMK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label insiprasi MMK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Malaikat Meratakan Jalan, Manusia Bertobat

Minggu kedua Adven merupakan Minggu persiapan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Yohanes menyerukan pertobatan agar dosa diampuni Allah, mengapa? Karena ada suara yang berseru-seru: persiapkan jalan untuk Tuhan karena Tuhan mau datang. Jalan diratakan supaya semua orang dapat melihat keselamatan yang dari Tuhan. Siapa yang harus mempersiapkan jalan bagi Tuhan?

Kalau Tuhan mau datang, tentu yang akan menyambutnya. Itu logis. Tetapi jika kita lihat dalam Yes. 40:3-6: yang harus mempersiapkan jalan ialah yang akan menghibur umat Allah. Hal serupa juga dinyatakan dalam Bar. 5:7. Siapa yang harus mempersiapkan jalan untuk Tuhan? Para penghuni surga! Tuhan datang untuk mengubah kesedihan, ketakutan dan keputusasaan umatNya. Kedatangan Tuhan membawa harapan dan kegembiraan.

Film 2012 menghebohkan karena menimbulkan reaksi banyak orang, apakah benar di tahun 2012 ini akan terjadi bencana seperti akhir jaman di seluruh dunia? Pertanyaan dan tanggapan banyak orang, itu karena manusia takut, kalau-kalau ini benar. Akhir jaman dengan segala gambaran akan bencananya menimbulkan ketakutan. Orang menunggu datangnya saat itu dengan cemas dan takut. Berbeda sekali gambaran Kitab Suci tentang saat kedatangan Tuhan. Nabi Yesaya, Baruch dan Yohanes mewartakan kedatangan Tuhan sebagai pemenuhan harapan, bukan ancaman dan ketakutan.

Jadi bertobat bukan pertama-tama rasa sesal dan takut, tapi rasa suka cita bahwa kesedihan dan ketakutan tanpa harapan diubah menjadi perjalanan pulang penuh sukacita. Bertobat berarti ikut bersama penghuni surga mempersiapkan jalan agar Tuhan dapat datang dalam hati kita sendiri dan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Aku lihat teman kelasku yang baru, namanya Kyle jalan pulang dari sekolah; kelihatannya dia membwa pulang semua bukunya.

“Ngapain ada anak yang bawa pulang semua bukunya pada hari Jumat? Pasti anak aneh.” Aku sendiri sudah ada acara di akhir pekan, pesta dan main bola dengan teman-temanku. Jadi, si aneh itu bukan urusanku. Aku juga jalan pulang. Tiba-tiba ada serombongan anak-anak, kejar-kejaran dan menabrak anak itu. Buku-bukunya berhamburan dan ia jatuh di tanah. Kacamatanya mental dan jatuh di rerumputan. Waktu dia bangun, kulihat ada kesedihan yang mendalam di matanya. Saya merasa kasihan. Saya berlari mendekati dia; yang sedang merangkak-rangkak mencari kacamatanya. Ada air mata di matanya. Saya ambilkan kacamatanya. “Anak-anak itu memang brengsek.”

Ia melihat saya dan berkata: “Terimakasih..” ia tersenym. Itu senyum yang penuh dengan rasa terimakasih. Saya bantu mengumpulkan buku-bukunya. Ternyata rumahnya dekat rumah saya. Karena itu kami jalan bareng. Saya tanya, megapa saya tidak pernah meilhat dia selama ini? Ternyada dia dulu jome schooling. Karena itu saya tidak pernah melihat dua.

Kami ngobrol sambil jalan, saya bawakan sebagian buku-bukunya. Saya ajak dia main bola bersama teman-teman saya, dia mau. Hari Sabtu kami main bola dan teman-teman saya uga menyukai Kyyle. Hari Senin pagi, Kyle kembali membawa tumpukan buku-bukunya ke sekolah. Saya komentar: “Kalau tiap hari bawa buku seperti itu, kamu akan sangat berotot.” Ia cuma tertwa dan membagikan separuh buku-bukunya untuk saya bawakan.

Selama 3 tahun di SMU kami jadi sahabat. Saat kelas III, kami erencanakan melanjutkan ke perguruan tinggi yang berbeda. Tapi kami pasti tetap jadi sahabat. Jarak tidak akan memisahkan kami. Kyle akan mewakili kami pada saat pesta perpisahan. Untung bukan saya. Meski kelihatannya Kyle kutu buku dan aneh, tapi terkenal di kelas.

Banyak anak cewek mendekati dia. Kadang saya iri hati padanya. Dan pada hari pesta perpisahan, dia kelihatan keren dengan jubah pelantikannya. Tapi kelihatan dia tegang dan gelisah harus memberi sambutan. Aku tpuk punggungnya. “Tenang bung. Kami pasti keren.” Ia melihat saya dengan pandangan penuh terimakasih.

Sambutan Kyle seperti berikut: “Hari Pelantikan adalah saat untuk berterimakasih kepada mereka yang menolongmu melalui tahun-tahun berat, orang tua, guru-guru, saudara/i. mungkin pak pelatih. Tapi sebagian besar adalah kepad teman-temanmu. Saya ada disini untuk bersaksi bahwa menjadi sahabat bagi seseorang adalah hadiah terbaik yang dapat kamu berikan.

Saya ceritakan pengalaman saya….” Saya terbengong-bengong; Kyle menceritakan pengalaman saat kami pertama kali bertemu. Ia rencana mau bunuh diri pada akhir pekan itu. Karena itu dia bawa semua buku-bukunya pulang, sehingga mamanya tidak perlu ke sekolah untuk mengambili barang-barag\ngnya di sekolah. Dia melihat ke saya dan tersenyum kecil. “Syukurlah saya diselamatkan. Teman saya menyelamatkan saya dari tindakan yang tak dapat dibayangkan.”

Saya mendengar desahan terkejut dari hadirin, ketika anak muda yang ganteng dan ngetop ini menceritakan saat ia paling lemah. Orang tua Kyle melihat kepada saya dan memberikan senyum yang penuh terimakasih. Baru saat itu saya menyadari makna mendalam tindakan saya. Jadi, jangan menganggap rendah kuasa perbuatan kita.

Satu ungkapan sederhana, kita dapat mengubah hidup seseorang. Jadi lebih baik atau lebih buruk. Tuhan menempatkan kita dalam hidup orang lain untuk ikut memberi pengaruh pada hidupnya. Jadi temukan Tuhan pada sesama. Sahabat adalah malaikat-malaikat yang mengangkat kita, saat sayap-sayap kita sulit terbang.

Selama masa Adven ini, Gereja juga bersama penghuni surga menyiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan dalam hati kita. Pendalaman Iman AAP, kotak AAP, Sakramen Tobat; dan secara khusus, adanya anak-anak yang akan menerima Komuni Pertama, mengingatkan kita, betapa Tuhan mau hadir dalam hati kita. Kesibukan kita untuk mempersiapkan anak-anak ini, rekoleksi untuk orang tuanya dan semua kesibukan kita mempersiapkan Natal ini, bukan sekedar kesibukan rutin.

Allah mengutus para malaikatnya untuk mempersiapkan jalan bagi kedatanganNya. Hal ini tidak hanya terjadi dahulu kala. Kehadiran para penghuni surga disini dan sekarang, menjadi nyata dalam kesibukan dan keinginan kita untuk saling membantu dan bekerja sama; bukan hanya sekali ini, dalam persiapan Natal tahun ini, tetapi juga untuk jangka panjang yang jauh: membantu anak-anak kita menjadi orang-orang yang mencintai Tuhan Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Selamat bekerja sama dengan para malaikat surga yang hadir di hati anda. Amin.
Sumber :http://www.sesawi.net/

Keluarga Adalah yang Terpenting Saat Natal

 Keluarga adalah prioritas utama
"Natal sangat berarti bagi banyak anak muda di Jerman," kata Martina Gille dari Institut Pemuda Jerman (DJI), "terutama karena ada acara keluarga." Lulusan sosiolog sejak pertengahan 1980-an itu bekerja sama dengan anak-anak muda dan mengamati apa yang penting bagi hidup mereka. "Selama 20 tahun terakhir, kami mengamati peningkatan nilai-nilai tradisional di kalangan remaja dan dewasa-muda," kata Gillespie. Alih-alih hanya memikirkan diri mereka sendiri, mereka kembali memikirkan arti pentingnya keluarga.
Pekerjaan merupakan hal penting bagi generasi muda. "Masa depan bagi banyak pelajar dan mahasiwa tidak pasti," kata ilmuwan sosial Martina Gille. Meskipun sebenarnya, kaum muda yang menjadi pengangguran di Jerman secara signifikan lebih rendah daripada di negara-negara lain, yakni sekitar 5,3 persen. Banyak orang muda yang usai menjalani pelatihan kerja akan mendapat kontrak kerja jangka tetap. Di samping pekerjaan, pegangan lain dalam hidupyang cukup penting adalah keluarga, tambah Gille.

Signifikansi agama
Christoph Tillman juga menghabiskan malam Natal bersama orang tuanya. Tidak seperti banyak teman sekelasnya, remaja berusia 15 tahun ini paling menantikan saat-saat misa di gereja. "Natal adalah kelahiran Kristus, karena itu pelayanan iman harus menjadi acara utama," ujar siswa yang berasal dari keluarga Kristen ini. "Hal ini juga sesuai dengan acara permainanNatal di gereja. Tapi pembagian hadiah Natal setelahnya, sebenarnya tak terlalu penting."
Dengan pandangannya tersebut, Tilmann tampak berbeda dengan rekan-rekannya. "Saya tidak religius dan menunjukkan diri lebih baik di depan gereja," kata Elisa Kuhr, yang berusia 16 tahun. "Sementara orangtua saya pergi ke gereja. Saya lebih memilih untuk duduk-duduk di rumah dan menghabiskan malam yang menyenangkan." Dia sangat suka jika ada salju di luar jendela dan menciumi bau pohon cemara Natal di ruangan rumahnya.
Makna keagamaan Natal dalam konteks kegerejaan berkurang," kata Martina Gille. Kajian yang dilakukan Shell menunjukkan bahwa, bagi remaja ‘agama‘ secara umum di Jerman menempati status setelah politik dan budaya. Demikian menurut jajak pendapat.
Alih-alih hadir di gereja, banyak siswa lebih memilih untuk mengembangkan tradisi baru. "Dalam keluarga kami, biasanya kita pergi ke bioskop pada hari Natal," kata Janina Keusch. "Ketika kami kembali dari bioskop, hadiah-hadiah sudah menunggu."

Suka membuat hadiah
Di Pasar Natal, Franziska Schirneck berdiri dengan teman-temannya di tengah keramaian dan hiruk pikuk. "Bagi banyak anak muda, penting artinya menerima hadiah-hadiah besar," kata mahasiswi keguruan berusia 20 tahun itu. "Ada banyak orang yang menghabiskan Natal tidak seperti yang kami lakukan. Jadi kita harus menghargai semua itu, dalam kerendahan hati."
Franziska sangat senang memberikan kesenangan untuk teman-teman dan anggota keluarganya, "Saya suka membuat hadiah. Hal ini jauh lebih baik daripada mendapatkan hadiah." Pembelian hadiah sudah dimulai minggu lalu. Sekarang dia dapat mempersiapkan diri untuk beberapa hari mendatang - dan beristirahat.


Kamis, 03 Desember 2015

Perbedaan Sinterklas Dengan Santa Klaus

sint Di Indonesia orang tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini jika Natal akan tiba. 
Namanya selalu disebut seakan lengket dan menjadi bagian dari perayaan Natal itu sendiri.

Sinterklas begitu orang menyebut dan memanggilnya. Nama dan sosok ini begitu terkenal di tanah air. Hal ini wajar mengingat nama Sinterklas sebenarnya adalah warisan dari Belanda yaitu Sinterklaas. Namun dengan semakin berkiblatnya Indonesia ke Amerika maka nama Sinterklas berangsur pudar dan mulai digantikan oleh nama baru yaitu Santa Klaus (Santa Claus), yang sering dimunculkan melalui film-film Hollywood yang notabene menguasai pasar film di Indonesia. Nah disinilah muncul kerancuan terhadap figur Sinterklas dan Santa Klaus. Seringkali Sinterklas digambarkan sebagai sosok Santa Klaus atau sebaliknya. Sinterklaas nama aslinya adalah Saint Nicholas (Belanda : Saint Nicolaas yang selanjutnya diplesetkan menjadi Sinterklaas) berasal dari Spanyol, adalah seorang Bishop (Uskup) yang berpenampilan layaknya seorang Uskup lengkap dengan topi uskupnya dan tongkat khas yang melingkar di ujung bagian atas. Uskup ini setiap tanggal 5 sampai 6 Desember melakukan perjalanan muhibah ke Belanda. Kemanapun pergi tidak ketinggalan ada yang menemani yaitu pembantu setianya yang berkulit hitam yang dikenal dengan sebutan Black Pete atau di Belanda disebut Zwarte Piet atau di Indonesia dikenal dengan Pit Si Hitam yang selalu membawa kantong penuh dengan hadiah kecil dan permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak yang tidak nakal. 

Dalam perjalanan muhibahnya ke utara kendaraan Sinterklas adalah seekor kuda putih. Sinterklas sangat senang dengan anak-anak, dia suka memberi nasihat kepada anak-anak sambil memangkunya. Di akhir wejangannya dia akan meminta anak-anak itu membisikkan hadiah apa yang diinginkannya kemudian berpesan agar di malam hari menjelang tidur setiap anak itu meletakkan sepatu dekat dengan perapian, karena Zwarte Piet akan meletakkan hadiah di atas sepatu anak-anak itu melalui cerobong asap perapian. Saat ini rumah-rumah di Belanda tidak lagi memakai perapian dengan cerobong asap, sehingga sepatu bisa di letakkan di dekat pemanas ruangan. 

Di Belanda hari Sinterklaas resminya diperingati setiap tanggal 5 Desember namun seringkali hingga tanggal 6 Desember. Santa Klaus tampaknya berasal dari Kutub Utara dan seorang penyendiri atau kemanapun tampak seorang diri, berperawakan gendut berjenggot putih panjang dengan topi musim dinginnya. Berbeda dengan Sinterklas, Santa Klaus muncul setiap menjelang hari Natal tanggal 25 Desember dengan mengendarai kereta ski yang ditarik oleh rusa kutub. Sinterklaas dalam penampilannya tampak tenang, sedangkan Santa Klaus adalah sosok yang digambarkan selalu dihiasi dengan tawanya yang khas. Ada kesamaan dengan Sinterklas, sosok Santa ini juga suka memberi nasihat kepada anak-anak dan bagi-bagi hadiah yang juga diberikan saat malam. Bedanya Sinterklas pada tanggal 5 Desember versi Belanda atau 6 Desember versi beberapa negara Eropa lainnya sedangkan Santa menjelang Natal yaitu 24 Desember malam. 

Demikian juga konon sang Santa ini jika memberi hadiah gemar melemparkan hadiah itu lewat cerobong asap rumah. Karena dulu sebelum pemanas ruangan semodern sekarang, seluruh penghuni rumah akan selalu mendekat di perapian untuk menghangatkan badan. Sebenarnya sosok seorang Santa Claus yang populer di Amerika Utara ini memang terinpsirasi dari sosok Sinterklaas sehingga ada beberapa kesamaan. Juga awal munculnya tokoh Santa Claus adalah dari New York yang notabene sebelumnya bernama New Amsterdam bekas jajahan Belanda. Di tanah air cerita tentang Sinterklas yang versi Belanda sudah dicampur aduk dengan Santa Claus versi Amerika yang jelas saat ini berbeda satu sama lain termasuk cara berpakaiannya.

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN

 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)
Sudah menjadi keharusan bahwa di dalam setiap kelompok masyarakat diperlukan seorang pemimpin. Hal ini tidak hanya berlaku dalam kelompok atau organisasi besar, tetapi juga dalam kelompok-kelompok kecil. Pemimpin dan kepemimpinan sekarang sudah menjadi kebutuhan penting dalam masyarakat modern. Ada banyak orang, baik dengan cara langsung ataupun dengan gaya malu-malu kucing ingin menjadi pemimpin. Tentu ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk tujuan tersebut. Tetapi, salah satu di antaranya adalah adanya pemikiran bahwa menjadi pemimpin berarti akan menjadi tuan dari yang dipimpin dan ini jelas sebuah konsep yang berlawanan dengan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yang menyatakan bahwa pemimpin harus menjadi pelayan dari semuanya (Matius 22:11).
Telah diakui secara umum bahwa dewasa ini, kita sedang mengalami krisis di bidang kepemimpinan. Hal ini juga terjadi dalam gereja atau lembaga Kristen. Krisis ini semakin diperburuk oleh pemimpin-pemimpin gereja atau lembaga Kristen, yang meniru dan mempraktikkan gaya kepemimpinan sekuler. Sebagai akibatnya, tentu saja pengaruh dunia semakin dalam masuk ke gereja. Apakah salahnya mempraktikkan kepemimpinan sekuler dalam pelayanan gereja? Permasalahan yang utama adalah kita tidak dapat memimpin suatu gereja dengan sukses, karena dalam prinsip-prinsip kepemimpinan sekuler, tidak mengenal kuasa Roh Kudus. Tetapi ada satu perkembangan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu dunia bisnis yang sering diasumsikan sebagai dunia sekuler dan kotor, justru tanpa disadari lebih banyak mengadopsi prinsip-prinsip kepemimpinan alkitabiah, sementara gereja meninggalkannya. Dengan satu kalimat singkat dapat dikatakan bahwa dalam kepemimpinannya, bisnis semakin alkitabiah dan gereja semakin sekuler.
Hal yang sangat mengkhawatirkan sekarang adalah kecenderungan lembaga gereja yang bergantung pada prinsip-prinsip kepemimpinan manusia, sehingga tidak tertutup kemungkinan suatu saat di dalam gereja, kita akan berusaha melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara manusia.
Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang melayani. Ini artinya bahwa seorang pemimpin Kristen bukan menerapkan kekuasaannya berdasarkan ego, tetapi berdasarkan tanggung jawab. Seorang pemimpin yang berdasarkan ego akan memuaskan egonya dalam setiap tujuan, sedangkan pemimpin yang dimotivasi oleh tanggung jawab, akan membuat dia mengurbankan egonya bagi suatu tujuan. Perlu diwaspadai bahwa seorang pemimpin yang dikendalikan ego, akan mengurangi integritasnya. Kepemimpinan membutuhkan kemauan keras, bukan kemauan yang egois atau keras kepala, melainkan kemauan yang tetap untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. Esensi kepemimpinan Kristen tidak terletak pada jabatan, gelar, atau pangkat, tetapi pada “kain dan basi” sebagaimana teladan Yesus saat Ia membasuh kaki murid-murid-Nya.
Model kepemimpinan melayani adalah model yang absah dan alkitabiah, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Mereka yang diangkat menjadi pemimpin di tengah-tengah umat Allah, selalu diangkat untuk melayani, entah sebagai imam, raja, atau nabi. Ketika Salomo diangkat menjadi raja, hal yang paling menyenangkan hati Tuhan adalah ketika dia memohon hati yang paham untuk membedakan antara yang baik dan jahat (1 Raja-Raja 3:9). Di sini jelas, permintaan ini bukan untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Demikian juga Harun saat ia ditahbiskan menjadi imam, di pundak kiri dan kanannya memikul masing-masing 6 nama dari 12 suku Israel yang ditulis pada batu permata, dan pada tutup dadanya ada 12 permata yang juga melambangkan suku-suku Israel. Hal ini dilakukan sebagai lambang tanggung jawab Harun untuk senantiasa berdoa bagi suku-suku yang dipimpinnya (Keluaran 28:12,29). Demikian juga dengan para nabi, mereka dipanggil untuk memimpin dan melayani umat.
Tuhan Yesus juga mengacu pada model yang sama. Ia mengajar murid-murid-Nya cara memimpin yang harus mereka miliki, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (Matius 20:25-27) “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, ia hendaknya menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:30-37)
Dalam konteks Markus 9, yang dipermasalahkan oleh murid-murid adalah soal siapa yang terhebat di antara mereka. Ironisnya, hal itu terjadi setelah Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya bahwa Ia akan menuju salib. Setelah peristiwa itu, Yesus mengajar mereka bahwa yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi hamba, dan Yesus merangkul seorang anak kecil sebagai model. Dalam Lukas 22:26, Yesus kembali menekankan bahwa yang memimpin hendaklah menjadi pelayan. Selama pelayanan-Nya di dunia, Yesus dengan keras menegur para ahli Taurat dan orang Farisi, yang pada saat menjabat sebagai pemimpin jemaat “suka duduk di tempat terhormat” (Matius 23:6-7).
Akhirnya, hal yang paling sulit untuk dilakukan dalam kepemimpinan yang melayani adalah, banyak orang beranggapan bahwa jika seorang pemimpin mengambil bagian dalam melakukan tugas sederhana dianggap dapat menurunkan kewibawaannya sebagai pemimpin. Jangan menganggap bahwa merendahkan diri itu hal yang mudah bagi seorang pemimpin. Masyarakat kita saat ini sudah memiliki konsep bahwa yang memimpin adalah bos, sehingga kalau seorang pemimpin mengerjakan tugas sederhana, ini tentu akan dianggap sebagai hal yang aneh. Dunia mustahil dapat menerima pandangan seperti ini, sebab yang dipandang wajar oleh dunia adalah seorang pemimpin harus menunjukkan kekuasaannya atas orang yang dipimpinnya. Tetapi kepemimpinan seperti ini menurut Yesus tidak dapat diterapkan dalam gereja, dan hal yang harus selalu diingat bahwa gereja dipanggil untuk melakukan kehendak Allah. Perlu diingat bahwa dalam konsep “pemimpin pelayan” yang menjadi tekanan bukanlah aspek “pemimpin” namun aspek “pelayan”. Pemimpin pelayan bukan pemimpin yang melayani, tetapi pelayan yang memimpin.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs: Gereja Pemberita Injil
Alamat URL: http://www.gepembri.org/cgi-bin/show.cgi?file=art/071211.id Judul artikel: Pemimpin Adalah Pelayan Penulis: G.I. Kristison
KUTIPAN
Nilai seorang pemimpin yang langgeng akan diukur oleh suksesi. (John C. Maxwell)
JELAJAH BUKU: KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Judul buku: Kepemimpinan yang Efektif
Judul asli buku: On-Purpose Leadership
Penulis: Dale Galloway dan Warren Bird
Penerjemah: Meiliana Purnama
Penerbit: Harvest Publication House, Jakarta 2003
Ukuran: 15 cm x 23 cm
Tebal: 190 halaman
Pemimpin yang memiliki kompetensi adalah pemimpin yang bisa memotivasi dan meregenerasi pemimpin-pemimpin baru. Karena jika seorang pemimpin tidak melakukan hal ini, maka terjadi sebuah kegagalan dalam struktur kepemimpinannya. Mengapa hal ini sangat penting? Karena bagi sebuah organisasi atau struktur lembaga apa pun, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan dengan tujuan agar dapat mempertahankan eksistensi dari lembaga tersebut. Jika tidak, maka harus siap menghadapi stagnasi yang berujung kepada kehancuran.
Terlalu banyak pemimpin yang terperangkap di tempatnya bagaikan kotak dengan langit-langit terbuat dari kaca. Atau di suatu tempat yang dikelilingi oleh dinding bata, atau dalam sebuah lingkungan yang kacau dan membingungkan. Apa pun situasinya, dalam buku yang berjudul “Kepemimpinan yang Efektif” ini, dipaparkan mengenai pandangan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengalami suatu terobosan ke tingkat-tingkat baru dalam pelayanan Anda. Produktivitas pelayanan Anda akan meningkat secara bertahap sementara Anda mendorong dan memberi semangat kepada para pemimpin biasa yang Anda pimpin, yang pada gilirannya akan memperlengkapi orang lain untuk menjalankan pelayanan.
Buku ini ditulis oleh Dale Galloway serta Warren Bird, yang merupakan rekan pengarang dan editor yang membantu Dale Galloway dalam meneliti perkembangan gereja-gereja. Mereka adalah orang-orang yang mengembangkan para pemimpin pelayanan di gereja lokal dengan dasar teladan pelayanan Kristus sendiri. Hampir 20 judul buku telah ditulis Galloway sepanjang pelayanannya sebagai pendeta dan pengajar. Dalam buku ini ada empat bagian besar yaitu, Bebaskan Diri Dari Status Quo, Bebaskan Diri Dari Kehidupan Sebagai Petualang dan Menyendiri, Bebaskan Diri Dari Sikap-sikap yang Menyerang dan yang terakhir Bebaskan diri dari Orang-orang yang Bermasalah. Dale Galloway berusaha menjelaskan dengan bahasa yang lugas dan sederhana, sehingga sangat memudahkan pembaca mengerti maksud dan tujuan penulis dalam setiap pokok bahasan. Selamat menyimak dan temukan keyakinan untuk menemukan satu masa depan pelayanan yang luar biasa.

Diulas oleh: Yonathan Sigit

Sabtu, 30 Mei 2015

Bayanganku Di Cermin

Sore itu hujan rintik-rintik mengantar Patrik pulang ke asrama tempat tinggalnya, dia seorang mahasiswa yang hidup jauh dari kampung halaman dan keluarganya. Dengan lelah ia meletakan tas yang penuh dengan buku diatas meja belajarnya, dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian dan segera berbaring di tempat tidurnya dengan harapan lelah yang ia rasakan segera terobati. pikirnya: 'Mengapa aku begitu lelah?', ''seandainya tadi nilai ujianku A, B atau setidaknya C, pastinya aku tidak frustasi seperti ini, frustasi ini membuat aku begitu lelah dan hanya ingin tidur saja rasanya, hmm.. tapi ujian belum selesai, besok ada 2 mata ujian yang harus kuhadapi, yah.. Tuhan tolonglah aku''.


Ia bangun dari tidurnya, menyandarkan punggungnya ke bantal dan duduk menatap cermin yang menempel di lemari tepat di depannya, ia pun mengutarakan keluhannya kepada bayangannya di cermin, dalam hatinya ia berkata : 'Hai kamu yang disana, bayanganku, apakah nasibmu sama denganku? Bagaimana kehidupanmu di duniamu? Aku tahu kalau kamu mempunyai kehidupanmu sendiri dan sekarang kamu sedang bercakap-cakap denganku bayanganmu dan akupun sedang bercakap-cakap denganmu bayanganku, iapun mendekati cermin itu dan melihat ke dalam cermin, ia menyerongkan kepalanya agar dapat melihat situasi didalam cermin itu..' Ya aku tau, kamu sedang melihat ke dalam kamarku, rasanya aku ingin memecahkan engkau cerminku.. apa katamu? Kau ingin memecahkan cerminku? Ya kita ini sama dan apa yang aku lakukan kamu juga akan melakukannya, di duniamu yang aku sebut dunia cermin dan di duniaku yang kamu sebut dunia cermin juga,'' katanya sambil tersenyum sendiri.


Ia kembali ke tempat tidurnya dan berusaha untuk beristirahat agar lelah yang ia rasakan lenyap, pikirnya, ' Kalau aku tidak istirahat, aku tidak dapat berkonsentrasi untuk belajar'. Sejam berlalu namun ia masih melamun di tempat tidurnya, kembali ia menatap cermin dari tempat tidurnya dan pikirannya terbawa ke dalam khayalannya.


Dalam khayalan cermin menyapanya, 'Apa yang terjadi padamu?' Ini aku cermin teman sekamarmu, ceritakanlah padaku masalahmu. Dia menjawab cermin itu, 'Apa yang salah denganku?' Aku selalu saja merasa iri hati dengan teman-temanku bahkan akupun sering frustasi karna apa yang aku capai sangat tidak memuaskan hatiku dan lagi mengapa teman-temanku mencapai hal yang aku inginkan sedangkan aku sendiri tidak dapat mencapainya, prestasi akademik, wanita idaman, bahkan akupun iri dengan tinggi badan yang mereka miliki namun tidak aku miliki, aku selalu berusaha untuk tidak memikirkannya namun pikiran itu selalu menggangguku.


Sesaat kemudian bayangannya keluar dari cermin dan duduk di tempat tidurnya tepat di samping Patrik dan sambil tersenyum bayangan itu berkata: 'Aku ini cermin dan aku mempunyai banyak rupa, banyak orang yang melihat dirinya padaku dan aku melihat bahwa pada dasarnya segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh rasa iri hati yang dimilikinya, kebanyakan aku melihat hidup mereka digerakan oleh hal-hal yang tidak semestinya menggerakkan hidup mereka, rasa bersalah, benci, marah, rasa takut, materi, kedudukan, nama baik dan hal-hal lainnya, aku pun bingung dengan masing-masing mereka, apakah untuk itu tujuan hidup mereka ?"


Patrik menjawabnya dengan nada bertanya, 'Bukankah memang seperti itu kehidupan ini?', bayangan itu menatapnya dan berkata, 'Kawanku.. benar katamu, kehidupan di dunia ini memang seperti itu, tapi semuanya itu bukanlah tujuan hidup ini, Patrik kembali bertanya dengan nada penasaran, 'Kalau begitu apakah tujuan hidup itu? Katakan padaku hai kamu bayanganku. Bayangannya tersenyum dan berkata pada Patrik, "Lihatlah kehidupan manusia yang tidak digerakan tujuan, hidupnya tiada makna dan ia berusaha menyenangkan hati semua orang, aku tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk berhasil tapi apa yang mereka lakukan adalah kegagalan, kenalilah tujuan hidupmu dan biarkan hidupmu digerakan olehnya.


Sahut Patrik kepadanya, 'Hai bayanganku beritahukan padaku apakah tujuan hidupku itu? Aku ini bayanganmu masakan engkau bertanya padaku yang adalah bayanganmu.


Lihatlah seorang ibu yang menjahit pakaian yang indah, tak seorang pun tau untuk apa ibu itu membuat pakaian yang indah itu selain dia yang membuatnya, anak perempuan ibu itu bertanya kepadanya,'untuk apa ibu membuat pakaian yang indah itu', sambil tersenyum ibu itu menjawab, "Anakku yang kukasihi, aku akan membuat pakaian yang indah yang aku rencanakan untuk hari pernikahanmu nanti. "


Patrik terdiam sambil memandang bayangannya, kata bayangan itu padanya, "Mengapa engkau memandangiku? Aku tidak dapat memberitahu tujuan hidupmu hanya Dia yang menciptakanmu yang mengetahuinya, satu hal yang ingin kuberitahu kepadamu, bahwa hidupmu ini bukan mengenai kamu, tetapi bagi kemuliaanNya yang menciptakan engkau, sebab segalah sesuatu diciptakan oleh Dia dan bagi Dia. bayangan itu tersenyum dan lenyap meninggalkan Patrik.


Patrik terbangun dari tidurnya, lelahnya sudah pergi meninggalkannya, ia bangun duduk di meja belajarnya dan memanjatkan doanya, "Ya Tuhan, segala kemuliaan hanya bagiMu, kutahu hidupku hanya untuk kemuliaan namaMu, pakailah hidupKu ya Tuhan biarlah yang kulakukan hanyalah untukmu, aku akan belajar untuk ujian besok dan semua itu kupersembahkan untuk Engkau, kebersyukur untuk semua yang terjadi dalam hidupku peganglah tanganKu ya Tuhan dalam menghadapi dunia ini, ampuniku atas kelemahanku, aku membutuhkan Engkau. Amin."

Kamis, 22 Mei 2014

Masih Katolik Romakah Anda?


Pada suatu hari, dalam sebuah kesempatan pembelajaran liturgi saya bertanya kepada beberapa anak muda.

“Jika disuruh memilih, Anda memilih Ekaristi yang cepet atau yang lama?” tanyaku kepada mereka. Serentak mereka menjawab, “Jelas milih Ekaristi yang cepet tho, Romo!” Jawaban ini tentu saja menarik perhatian. Rupa-rupanya, ada banyak umat yang melihat dan menyukai perayaan Ekaristi yang cepat.

“Lalu, kamu lebih suka Ekaristi Mingguan di Gerejamu atau memilih EKM?” Tanpa pikir panjang, layaknya koor, mereka menjawab, “EKM….”
“Umumnya, misa mingguan di paroki itu 1 jam 15 menit. Kalau EKM itu sekitar 2 jam. Bisa lebih. Katanya kalian suka Ekaristi yang cepat? Mengapa lebih memilih EKM yang nyatanya lebih lama?” tanyaku menyelidik.

Rabu, 07 Agustus 2013

MORNING MOMENTS



In this morning moment,
I bow my head in prayer;
I praise You for who You are;
You are wonderful and fair.

In this morning moment,
I thank You for the things You do;
I know You are with me;
I take joy in knowing You.

In this morning moment,
May I confess the sins I've done;
May I be forgiven; 
Through Jesus your precious Son.

In this morning moment,
Let it be your will and not mine
To answer a request I have,
For You are holy and kind.

For in this morning moment,
I know You hear my prayer;
I thank You for listening 
And I know that You care.


GT
Di pagi ini saat, 
Saya menundukkan kepala saya dalam doa; 
Saya memuji Anda untuk siapa Anda;
Anda yang indah dan adil. 
 Di pagi ini saat, 

Saya berterima kasih kepada Anda untuk hal-hal Anda lakukan; 
Saya tahu Anda dengan saya; 
Aku mengambil sukacita dalam mengetahui Anda. 

Di pagi ini saat, 
Semoga saya mengakui dosa-dosa yang telah saya lakukan; 
Semoga aku diampuni; 
Melalui Yesus Putra berharga Anda. 

 Di pagi ini saat, 
Biarlah kehendak Anda dan bukan milikku 
Untuk menjawab permintaan saya, 
Untuk Anda yang kudus dan baik. 
Untuk pagi ini saat, 

Saya tahu Anda akan mendengar doa saya; 
Saya berterima kasih kepada Anda 
untuk mendengarkan 
Dan saya tahu bahwa Anda peduli.

ALZHEIMER

Saya adalah seorang Perawat disebuah Rumah Sakit kecil. Pagi itu klinik sangat sibuk, Sekitar pukul 09:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka diibu jarinya . Saya menyi
apkan berkasnya & memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
 Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan, Jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru, Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, sepert Ia yg dilakukannya sehari-hari, Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu yang lalu & istrinya mengidap penyakit 

Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat, Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mangenalinya sejak 5 tahun terakhir.
Saya sangat terkejut dan berkata : “ Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi? “

Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata: "Dia memang tidak mengenali saya, tetapi saya masih mngenali dia, kan ?"
Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi. Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku.

Makna yang bisa kita ambil :
Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati » menerima apa adanya:
yg terjadi saat ini
yg sudah terjadi
yg akan terjadi

yg tidak akan pernah terjadi..

Belajar Berguru kepada Alam Sekitar

=Dilarang berpikiran negatif=
(Remah-remah dari Pertapaan)

Entah kenapa, hampir setiap tamu baru yang datang di rumahku selalu menanyakan nama anjing geniusku, namanya Mara. Dan lebih aneh lagi bahwa hampir semua dari mereka itu bertanya lebih lanjut apa arti nama itu. Aku tidak tahu apakah nama harus punya arti? Tidakkah lebih baik seperti kata-kata Juliet kepada Romeo, "Apalah arti sebuah nama", alias peduli amat dengan nama. Atau harukah memang demikian bahwa nama begitu penting dan harus mempunyai arti. Kalau iya, apakah arti dari nama Tuhan atau Allah. Ah, bikin kerjaan lagi mencari tahu nama anjingku itu.

Aku sendiri tidak tahu arti nama anjingku karena bukan aku yang memberinya nama. Ketika datang di rumah ini, Marah sudah ada dan ia langsung akrab denganku saat aku kemudian menjadi tuannya. Aku pun selalu memanggilnya Mara dan tidak pernah bermaksud mengganti namanya seperti nama yang aku sukai.

Jujur aku sendiri tidak suka nama itu, Mara. Untungnya namanya kurang satu huruf di belakang yakni huruf "h". Kalau lengkap, pasti aku lebih tidak suka dengan namanya. Iya dengan namanya saja, bukan anjingnya. Aku suka dia karena kejeniusan dan kebaikan, kesopanan, serta kesederhanaannya. Dia hampir tidak pernah salah dalam menerima dan menyambut tamu-tamuku. Bagi mereka yang pernah datang sebelumnya pasti langsung dikenali. Tandanya saat tamu itu masuk halaman rumahku, dia akan diam atau menyambutnya dengan lolongan manja atau sekedar menggoyang-goyangkan ekornya. Bahkan mobil dan motor yang pernah dilihatnya pun pasti dikenali. Aku heran daya ingatnya sangat kuat. Sebaliknya "tamu baru" yang masuk halaman rumahku pasti akan digonggong. Kalau tamu itu maksa diri menerobos masuk tanpa menyebut namanya, percaya bahwa dia akan maju dan berusaha memanghalanginya sembari memanggilku dengan bahasa "teriakannya". Kalau aku terlambat memintanya dia dan tamu baru memaksa masuk, maka dia pasti akan memainkan jurus pertama yakni jurus serangan tanpa cakar dan gigitan, hanya mendorong tamu baru itu.

Ulahnya kadang-kadang membuatku jengkel, tetapi kadang-kadang aku juga memujinya karena kesetiaannya pada tugas pokoknya itu. Aku hanya kawatir kalau-kalau ada tamu yang dihadang olehnya dan maksa masuk halaman tanpa izin, bisa-bisa mendapat kado pertama dari Mara.

Satu lagi yang aku suka darinya yakni kerendahan hati dan kesederhanaannya. Kadang-kadang aku berpikir bahwa walaupun dia binatang tapi ia toh tetap sopan dan sederhana. Saat aku duduk dan dia belum mendapat jatah makanan setelah aku makan, pasti dia akan datang duduk di depanku sambil mengangkat salah satu kaki depannya seperti mau menyalamiku sambil meraung. Aku sudah hafal betul kode sandinya itu. Saat ada tamuku dan dia mulai bertingkah aneh; entah ribut atau lari sana-sini, cukup aku menghardiknya dengan menyebut kata "satu" sambil menyebut namanya, maka ia akan segera menunduk lalu pergi ke depan gereja untuk kemudian duduk sambil sesekali melihat ke arahku. 

Kesederhanaannya juga membuatku terharu. Saat aku pulang tengah malam atau saa di rumah dan malas masak nasih, kadang-kadang aku siram indomie plus telur ayam. Aku pasti menyiram dua bungkus karena satu untuk Mara, dan ia pun tidak protes. Ia pasti memakan apa pun yang aku sodorkan ke piringnya. Ia begitu percaya kepadaku bahwa apa yang aku berikan pasti bukan sesuatu yang membahayakan dirinya.

Kadang-kadang aku duduk dan merenung, kokh bisa-bisanya binatang seperti Mara bisa ada? Binatang yang bertanggungjawab dengan tugasnya, sopan, rendahati, dan sederhana? Kadang-kadang aku malu sendiri dengan diriku sendiri saat "terjatuh" dalam tanggungjawab, dalam kesopanan dan kerendahanhati, dan dalam kesederhanaan, ketika ketemu Mara di rumahku. Kadang-kadang aku berkata dalam hatiku, "Masakan Marah lebih rendahati dan sederhana daripada aku? Tidak, aku jauh lebih bisa daripadanya". Terima kasih Mara atas kehadiranmu yang mampu membuatku untuk selalu berusaha lebih bertanggungjawab dalam tugas-tugasku, berusaha lebih sopan dan renda hati, dan berusaha hidup sederhana melebihi dirim, bukan karena aku adalah tuanmu tetapi karena aku adalah manusia yang berbeda dengan dirimu.***

Kawasan Wajib Bahagia

Rupanya Lebih susah Mendengarkan daripada Melihat dan Berbicara

(Belajar dari Pengalaman membuat Patung)

Untuk sementara aku harus meninggalkan pekerjaan membuat patung kepala mendiang Paus Yohanes Paulus II di pendopo pastoranku, selain karena sudah malam tetapi juga aku menunggu hati yang tenang tanpa kejengkelan dan kemarahan dalam diriku. Hal yang terakhir inilah satu-satunya syarat tanpa diskusi kalau mau membuat patung dengan hasil yang memuaskan. Berkali-kali aku mencoba membuat daun telinga patung tokoh idolaku yang kubuat dari campuran pasir dan semen tetapi selalu gagal. Mata, hidung dan bibirnya berhasil kubuat tanpa kesulitan, kendati belum sampai pada tahap membuatnya tersenyum seperti foto aslinya karena harus menunggu waktu di mana hatiku juga harus tersenyum seperti pesan guruku, "Kalau mau membuat patung tersenyum atau tertawa, hati anda pertama-tama harus tersenyum dan tertawa. Kalau tidak sanggup, tinggalkan pekerjaan itu dan kembalilah saat hatimu sudah bisa tersenyum dan tertawa,...". 


Sampai pada tahap hidung, mata, dan bibir, pekerjaan masih berjalan dengan baik. Tetapi ketika sampai pada pembuatan daun telinga, aku selalu gagal. Aku tidak tahu mengapa bagian ini merupakan bagian paling sulit untukku. Berkali-kali kucoba dan selalu gagal, sampai-sampai hati dan budiku yang coba kujaga ketenangannya terpaksa berontak emosi. Daripada mendapatkan hasil yang lebih buruk, aku harus mundur sejenak untuk mencari waktu yang lebih tenang. Mungkin aku harus "latihan" mendengar lagi supaya daun telinga patung yang sementara aku buat tidak rusak lagi.

Kucoba memandang patung tembok yang sementara kubuat itu. Aku mulai bertanya untuk diriku sendiri, mengapa begitu susah membuat daun telinga daripada bagian-bagian yang lain? Tiba-tiba dari tempatku duduk memandangnya hatiku menjawab bahwa barangkali memang harus demikian karena bagian pendengaran pada manusialah yang paling rumit. Aku terpancing lagi untuk masuk pada kontemplasi liar ala pertapaanku.

Aku tidak tahu apakah memang demikian, bahwa bagian pendengaranlah yang paling rumit dan susah pada manusia seperti rumitnya membuat daun telinga pada patung yang sementara kubuat??? Kalau iya, mengapa? Kucoba untuk mencari jawaban tetapi samar-samat ia terbang tinggi menerobos kabut yang sesekali saja muncul lalu menghilang lagi. Kucoba mengejarnya tetapi kekuatan inderaku tidak sanggup untuk menangkapnya. Aku pulang dengan kekalahan, tanpa jawaban yang pasti, mengapa? 

Kubiarkan diriku larut dalam permenungan, menjawab pertanyaan mengapa bagian daun telinga yang paling sulit aku buat. Aku akhirnya sampai pada kesimpulan sementara bahwa mungkin karena aku (dan mungkin manusia pada umumnya) begitu gampang berbicara, tidak sulit untuk melihat dengan mata, tetapi begitu sulit untuk mendengarkan. Iya, mungkin itulah jawabannya. Betapa aku gampang berkata-kata dan berbicara serta berteori. Begitu gampang aku menggunakan mataku untuk melihat, bahkan melihat keburukan orang lain. TETAPI betapa sulitnya menjadi seorang pendengar dan mendengarkan orang lain bahkan mendengarkan suara TUHAN. Oh, my God,...!!! Betapa aku terkejut dengan pengalamanku membuat patung hari ini. Mungkin TUHAN sendiri yang datang "berteriak" memperdengarkan suaraNya, betapa aku begitu sulit mendengarNya dengan menunjukkan kepadaku betapa sulitnya membuat daun telinga pada patung yang sementara aku buat. 

Lamunanku kini makin liar. Mungkin itulah sebabnya mengapa Ia menciptaku dengan satu mulut, dan dua telinga; supaya aku lebih banyak menggunakan telingaku daripada mulutku untuk berbicara dan cerewet. I don't knowlah, hahaha. 

Oh, iya pengalamanku membuat patung hari ini membuatku kembali merenungkan kata-kata yang sering aku kutip saat memberikan rekoleksi kepada anak-anak sekolah, "Tahukah anda mengapa TUHAN mencipta manusia dengan satu mulut, satu hidung, dua mata, dua tangan, dua telinga, dan tiga otak?" Dan aku selalu berkata, "Supaya kita menggunakan mata kita dua kali lipat daripada mulut, menggunakan TELINGA kita dua kali lipat daripada mulut, menggunakan tangan kita dua kali lipat daripada mulut, dan otak kita tiga kali lipat dari pada yang lain,..."

Untuk sementara aku sampai pada kesadaran betapa aku harus lebih sadar untuk menggunakan telingaku, mendengarkan orang lain dan terutama TUHAN daripada melihat dan berbicara dan berbicara alias cerewet. Kini aku sampai pada kesimpulan sementara bahwa betapa sulitnya menjadi pendengar daripada melihat dan berbicara, seperti aku sulit membuat daun telinga pada patung daripada membut mata dan mulut. So, mari belajar dan terus melatih diri untuk mendengarkan orang lain dan TUHAN daripada melihat dan berkata-kata.***

Kawasan Wajib Bahagia

Rabu, 24 Juli 2013

Ketika Rumah Doa menjadi rumah Makan

(Mari Bermenung Sejenak)
Yans Sulo Paganna'dari Kawasan Wajib Bahagia

Santo Agustinus, seorang suci dan pujangga besar dalam Gereja pernah berdiskusi dengan seorang imam Fransiskan, tentang "doa". Agustinus bertanya kepada Fransiskanes, "Mana yang dibolehkan; merokok sambil berdoa, atau berdoa sambil merokok?" Dan jawaban Sang Fransiskanes, "Merokok sambil berdoa". Agustinus kemudian berkata, "Buatlah seperti itu; bekerja dalam doa dan bukan larut dalam doa dan kemudian lupa bekerja,...".

Hati-hatilah membaca percakapan Agustinus dengan Sang Fransiskanes di atas. Aku kawatir anda lepas dari konteks diskusi mereka, seperti aku ingin lepas daripadanya dengan permainan kata-kataku berikut.

Di suatu kota kecil, beberapa tahun lalu aku membaca sebuah tulisan indah "Rumah Doa" (bukan rumah berdoa lho, seperti ada rumah bernyanyi, hahaha). Bangunan itu tampak megah dan indah. Waktu itu aku sempat berpikir, kenapa disebut rumah doa? Apakah bangunan itu adalah gereja? Lalu cepat-cepat aku berpikir bahwa pasti bukan gereja, tapi memang rumah. Dan yang namanya rumah, pasti ada dapurnya, pasti ada toiletnya, pasti ada kamar tidurnya, dan pasti ada ruang tamunya. Aku penasaran dengan "kata rumah doa" itu, lalu aku terpancing untuk masuk ke dalamnya. 

Aku masuk ke lantai dasar dan mendapati barang-barang rohani yang dijual lengkap dengan buku-buku rohani. Saat itu aku mendengar kumpulan orang-orang yang sedang bernyanyi dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dari lantai atas. Aku kemudian berkesimpulan bahwa "gedung" dua lantai yang megah itu adalah gedung untuk berdoa. Aku tidak tahu apakah gedung itu dibuka umum bagi siapa saja yang mau "berdoa" atau hanya untuk kelompok tertentu saja. Akupun tidak pernah bertanya kepada orang-orang di kota kecil itu.

Kemudian terkejut ketika tahun ini aku membaca tulisan di gedung itu, "Rumah Makan,..." Aku tidak memperhatikan dengan baik rumah makan apa namanya. Dalam hati aku bertanya, "Kokh rumah doa telah disulap menjadi rumah makan?" Aku tidak tahu apakah lantai atas restoran itu masih dipakai sebagai tempat menyanyi dan berdoa atau tidak. Pada saat melihat tulisan "Rumah Makan", pikiranku langsung terbang tinggi menyebrangi ruang dan waktu, yakni tentang diskusi Agustinus dengan seorang Fransiskan pada abad keempat masehi, yang sekali lagi lepas dari konteksnya.

Nah, mari kita bermenung !!!
Aku memberi judul "statusku" ini, "Ketika Rumah Doa menjadi rumah Makan". Aku ingin mengajak anda untuk bermain kata-kata sejenak. 

Seandainya Agustinus datang ke kota kecil di mana Rumah Doa telah menjadi rumah Makan, kemungkinan ia akan bertanya, "Mana yang dibolehkan, berdoa sambil makan atau makan sambil berdoa?" Dan jawaban anda pasti sama dengan jawaban imam Fransiskan, "Makan sambil berdoa". Ya tidak sopanlah kalau kemudian kita sedang berdoa lalu makan. Yang mungkin adalah ketika kita makan boleh-boleh saja sambil berdoa dalam hati. Misalnya, ketika sedang makan tiba-tiba ada sms yang masuk "Tolong doakan, aku sedang diadili oleh mertuaku dan memintaku cerai dengan anaknya. Doakanlah sekarang juga,!!!", misalnya saja demikian. Tetapi sangat tidak sopan ketika sedang mendoakan orang yang sekarat lalu tiba-tiba ingat makan dan langsung lari ke dapur untuk makan sementara anda sedang berdoa.

Baik, aku kembali ke BB, "Rumah Doa menjadi rumah Makan". Mungkin akan jauh lebih enak kedengarannya dan akan lebih enak membacanya ketika tertulis, "Rumah Makan menjadi rumah Doa" dan bukan "Rumah Doa menjadi rumah Makan". Yang pertama akan sama dengan jawaban imam Fransiskan kepada Agustinus, tetapi kedua pasti tidak diterima oleh Agustinus dan juga tidak diharapkan seperti itu. 

Berdoa sambil makan boleh dikatakan merupakan suatu ungkapan ketidakseriusan dalam berdoa; tetapi makan sambil berdoa akan berbuah aksi. Berdoa sambil makan akan menjadi doa yang hampa tanpa penghayatan akan doa itu sendiri. Berdoa sambil makan mungkin saja akan membuat Allah marah, tetapi makan sambil berdoa akan membuat Allah tersenyum gembira. Yang petama berbuah kehampaan, yang kedua berbuah aksi. Doa tanpa aksi adalah omong kosong sekaligus berbahaya, sebaliknya aksi tanpa doa adalah sia-sia.***

Rabu, 17 Juli 2013

Mental Jalan Pintas

Setiap kita pasti tahu cerita Doraemon dan Nobita. Nobita adalah seorang yang kurang sabar jika menginginkan sesuatu, maunya instan. Dan, Doraemon adalah sahabat Nobita yang selalu memberikan apa saja yang diminta Nobita karena memiliki kantong ajaib. Sayangnya, Nobita sering kali gagal mempergunakan dengan baik benda-benda yang ia terima sehingga hasilnya adalah kekecewaan. Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap keinginan yang diperoleh dengan cara instan, cenderung menghasilkan kekecewaan. Juga, tersirat pesan bahwa adalah baik jika kita mau menjalani setiap proses yang ada di dalam kehidupan ini.

Tidak jarang, sebagai manusia kita juga memiliki kecenderungan untuk bersikap seperti Nobita, yang memiliki mental jalan pintas. Anak muda sering kali bersikap tidak sabar dalam banyak hal. Tidak sabar menanti jodoh yang lebih tepat sehingga menikah dengan orang yang berbeda iman. Tidak sabar mengikuti sekolah atau kuliah sehingga berhenti sekolah atau kuliah. Hasilnya, kekecewaanlah yang didapat. Di dalam Alkitab, kita bisa melihat contoh ini pada diri Esau. Karena tidak sabar untuk menahan lapar, ia kehilangan hak kesulungannya karena ia menukarnya dengan sepiring sup kacang merah. Akhirnya, hanya penyesalan yang tiada artinyalah yang ia rasakan. Sebab, sekalipun ia sampai mencucurkan air mata, hak kesulungan itu sudah bukan lagi menjadi miliknya.

Di dalam hidup ini, kita pasti memiliki keinginan-keinginan yang, kalau bisa, kita peroleh dengan cepat. Terlalu sering, orang mengharapkan apa yang ia inginkan terwujud saat itu juga. Sadarilah, diperlukan kesabaran untuk mewujudkan semua keinginan itu. Kesabaran yang disertai usaha tanpa pernah putus asa akan membuat seseorang mendapatkan apa yang ia inginkan. Itulah yang dinamakan proses! Orang yang bersedia melalui proses dan kemudian mendapatkan yang ia inginkan akan merasakan kepuasan tersendiri. Di samping itu, ia bisa belajar banyak dari apa yang sudah ia lalui untuk dijadikan bekal bagi kehidupannya di masa yang akan datang.

Jangan pernah memiliki mental jalan pintas! Tetapi, milikilah mental anak Tuhan yang tangguh, yang tidak pernah menyerah, yang mau menjalani proses kehidupan meski itu sulit. Karena, di situlah terletak nilai-nilai kehidupan yang sangat berharga, yang pada gilirannya tidak akan membuat kita menyes

Selasa, 16 Juli 2013

EMANGNYA GUE PIKIRIN

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati seorang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Siapa tahu ada makanan? Tapi dia begitu terkejut, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Si tikus itu lari kembali ke rumah pertanian sambil menjerit memberi peringatan: "Awas, teman-teman... ada perangkap tikus di dalam rumah!” 

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Wah... sori ya, Mas Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku sih ngga ada masalahnya! Jadi jangan buat aku pusing." Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah!” "Aduh, aku sungguh menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doaku, oke!" Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh... ada perangkap tikus... jadi aku dalam bahaya besar ya?!" kata lembu itu sambil ketawa. Jadi si tikus itu pergi merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. 

Malam itu juga terdengarlah suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang telah menangkap mangsanya! Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu ternyata adalah seekor ular beracun. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Suaminya bergegas membawanya ke rumah sakit. Kemudian dia kembali ke rumah dengan demam. Dan karena memang biasanya minum sup ayam segar itu baik untuk orang yang sakit demam panas, maka petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari sang ayam untuk dipotong! Namun penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dan dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan kepada para tamu itu. Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Akhirnya ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu! Ternyata jika masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh rumah pertanian ikut menanggung risikonya. 

Kita ini adalah bangsa yg tidak mau repot, seperti dikatakan mantan Presiden kita Almarhum Gus Dur “Abdul Rahman Wahid,” segitu aja kok repot, kayak anak TK aja, emangnya gue pikirin. MentalitasBukan Urusanku adalah mentalitas manusia moderen yang makin canggih tapi individualistis, Live and let live. Kita pikir bahwa “hidup baik dan suci” itu berarti “menghindari perbuatan jahat.” Benar juga, tapi bukan hanya itu saja. Sebab kita bisa berdosa bukan hanya dengan perbuatan melainkan juga dengan kelalaian. Ingat Doa Tobat kita di awal Misa, “Saya mengaku... bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan KELALAIAN....”Kita berdosa apabila kita melalaikan suatu perbuatan baik yang sebenarnya kita bisa dan sempat! Misalnya kamu menyaksikan teman-kerja kamu sedang melakukan kecurangan dan kamu diam saja... kamu ikut berdosa. Kamu melihat teman-kelas kamu sedang nyontek, dan kamu tidak berbuat apa-apa... kamu ikut berdosa. Yang jelas, menyelamatkan sesama kita itu adalah tanggung-jawab kita... kita harus repot... kita harus pikirin-nya... itu urusan kita! 

Makanya Yesus punya ajaran khusus tentang cara menegor seorang yang berbuat kesalahan. Itulah yang kita baru dengar di dalam Injil (Mat 18:15-29) dan didukung pesan dari Bacaan Pertama melalui pengalaman Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9). Kita mempunyai tanggung-jawab terhadap sesama kita. Itu termasuk disiplin (discipline) kita sebagai pengikut (disciple) Kristus yang sejati. Tidaklah mudah menjadi pengikut Kristus. Berhadapan dengan kesalahan dan kejahatan, kita diharapkan untuk berani dan siap dianggap “beda” dan “ngga kompak” dengan yang lain! Jika kita dengan sengaja melalaikan kesempatan untuk menyelamatkan sesama yang dalam bahaya, berarti kita diam saja. Jangan sampai orang jahat jadi makin banyak gara-gara orang baik diam saja!

Bangkitlah Kaum Muda Katolik!

Kurangnya perhatian pimpinan gereja, ketiadaan dana serta keterbatasan informasi telah membuat para kaum muda Katolik bingung darimana harus memulai mendirikan seksi komunikasi. Kebingungan itu masih masuk akal jika terjadi di wilayah pedalaman. Namun jika kebingungan tersebut datang dari kaum muda di kota-kota besar, rasanya itu cukup ironis.

Arus deras informasi yang ini didukung oleh teknologi internet dan telepon selularpun, membuat kaum muda kita bertanya-tanya. Apa tugas bidang komunikasi di paroki-paroki? Jawaban yang paling gampang ditemukan adalah bahwa tugas seksi komunikasi itu ialah membuat bulletin, punya radio, punya studio rekaman, mengurus internet, serta media komunikasi lainnya.

Namun, jawaban di atas itupun masih membingungkan kaum muda di perkotaan. Ada asumsi bahwa memulai kegiatan komunikasi harus dari hirarki di atas. Pimpinan Gerejalah yang harus memulai dan membuat arahan komunikasi.

Kaum muda dengan semangat muda, seyogyanya bisa mendobrak tradisi tersebut. Masih segar di telinga kita bagaimana Barack Obama, kandidat muda berlatar belakang wartawan, akhirnya tampil sebagai calon presiden kulit hitam pertama di negara adidaya Amerika Serikat. Masih segar pula pembuktian bahwa internet menjadi faktor kunci kemenangan sang kandidat . Tampilnya Obama telah menjadi bukti betapa kekuatan arus informasi dan komunikasi yang didukung dengan semangat perubahan, mampu mendobrak undang-undang tak tertulis "Presiden Amerika Serikat harus berkulit putih".

Maka amatlah disayangkan jika kaum muda Katolik merasa terbentur dengan rintangan otoritas hirarki ataupun kekurangan sumber informasi. Ide-ide kreatif yang bergulir dari obrolan di café, kerjasama lintas sosial, ataupun penggalangan solidaritas karitatifpun, bisa menjadi langkah bagi awal kaum muda untuk membangun komunikasi bagi gerejanya. Mulai dari ide perayaan Valentin, donor darah, warnet, kerja bakti kebersihan kerjasama antara Mudika dan RT setempat sampai pada forum dialog formal, secara tidak langsung sudah menjadi sumber pewarta gerejanya.

Semua wujud fisik media seperti radio, tv, handphone dan internet hanyalah bentuk fisik sarana pewartaan. Gerak kaum muda sesungguhnya merupakan seksi komunikasi gereja yang sebenarnya.

"Maka, bangkitlah kaum muda! Buatlah sesuatu dengan semangat, maka Gereja akan berubah. Karena Gereja adalah dirimu juga!

Kamis, 11 Juli 2013

Perdebatan Pria Dan Cowok

Inilah Perbedaan mendasar antara seorang PRIA dan COWOK

P : Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa
C : Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa

P : Jago membuat wanita merasa tenang
C : Jago membuat cewek merasa senang

P : Bacaannya Jhon Grisham, mainannya golf, tontonannya CNN
C : Bacaannya Harry Potter, mainannya bilyar, tontonannya MTV

P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang
C : Sebelum umur 30 sudah banyak dosa

P : Seimbang antara penghasilan dan pemasukan
C : Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum

P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita
C: Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri

P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan
C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan

P : Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau mamanya menelepon
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya menelepon

P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, “Kita tetap bisa berteman selamanya.”
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang-batang, plus ucapan, “Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!”

P : Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal dan meningkat terus
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus
P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun

P: Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik
C: Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo konflik

P : Mikirnya “Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebih banyak”
C : Mikirnya “Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin !!!”

P: Otak no 1, digabungin otot kalo kepaksa
C: Otot no 1, ditambah otak kalo punya.

Rumah di sisi jalan

by: Sam Walter Foss

Kita bearada di dunia ini guna membantu satu sama lain di sepanjang perjalanan kehidupan. Apakah pintu hati kita seperti rumah sederhana di pinggir jalan yang siap menyambut dengan tangan terbuka setiap musafir yang lelah dan letih?

Ada jiwa petapa yang hidup terpencil

Dalam kedamaian kepuasan diri mereka;

Ada jiwa, seperti bintang, yang jauh mengucil,

Dalam cakrawala tanpa teman alam semesta;

Ada jiwa pelopor yang membuka jalan

Yang tak pernah dilewati jalan raya;

Tetapi biarkan aku tinggal di sisi jalan

Dan menjadi teman bagi manusia



Biarkan aku bermukim di rumah di tepi jalan,

Di mana umat manusia berlalu lalang -

Orang yang baik dan orang yang jahat perbuatan,

Sebaik dan seburuk aku seorang.

Aku tidak akan duduk di kursi sang pencibir,

Atau melemparkan larangan yang nyinyir;

Biarkan aku tinggal di rumah di sisi jalan

Dan bagi setiap orang menjadi teman.



Aku melihat dari rumahku di sisi jalan,

Di sisi jalan raya kehidupan,

Orang yang berkutat dengan semangat pengharapan,

Orang yang letih lesu dengan perjuangan.

Tetapi aku tidak berpaling dari senyum dan air mata mereka-

Yang merupakan bagian tiada akhir suatu rencana; 

Biarkan aku hidup di rumahku di tepi jalan

Dan bagi setiap orang menjadi teman



Biarkan aku bermukim di rumahku di tepi jalan

Di mana umat manusia berlalu lalang-

Mereka lemah, mereka baik, mereka jalang,

Mereka memiliki kekuatan,

Arif, bodoh - begitupun aku

Lalu mengapa aku harus mencibir di bangku itu

Atau melemparkan larangan sinis mengharu biru? -

Biarkan aku tinggal di rumahku di sisi jalan

Dan bagi setiap orang menjadi teman