Translate

Rabu, 07 September 2011

Biodata Alm. Yohanes Paulus II

Karol Józef Wojtyła, yang dikenal sebagai Yohanes Paulus II sejak terpilih menjadi Paus pada Oktober 1978, lahir di Wadowice, Polandia, suatu kota kecil berjarak 50 km dari Krakow, pada 18 Mei 1920. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir pada keluarga Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska. Ibunya meninggal pada 1929. Kakak sulungnya Edmund, seorang dokter, meninggal pada 1932 dan ayahnya, seorang anggota angkatan darat non perwira, meninggal pada 1941. Seorang kakak perempuan bernama Olga meninggal sebelum Karol lahir.
Karol Wojtyla at 12Karol dibaptis pada 20 Juni, 1920, di gereja paroki Wadowice oleh Pater Franciszek Zak, dan menerima komuni suci pertama pada usia 9 tahun dan sakramen penguatan pada usia 18 tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah atas Marcin Wadowita di Wadowice ia mendaftar di Universitas Jaggiellonian di Krakow pada 1938 dan di suatu sekolah drama.
Pasukan pendudukan Nazi menutup universitas tersebut pada 1939 dan Karol muda harus bekerja di suatu pertambangan (1940-1944) dan kemudian di pabrik kimia Solvay untuk mendapatkan nafkah hidup dan untuk menghindarkan diri dideportasi ke Jerman.
Pada 1942, sadar akan panggilannya untuk menjadi imam, ia memulai kursus-kursus di seminari bawah tanah Krakow, yang diselenggarakan oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, uskup agung Krakow. Pada waktu yang sama, Karol Wojtyla menjadi salah satu perintis “Rhapsodic Theatre” yang juga bergerak di bawah tanah.
Setelah Perang Dunia Kedua, setelah seminari tinggi Krakow sudah dibuka kembali, Karol melanjutkan studinya di situ dan di fakultas teologi Universitas Jagiellonian. Ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Sapieha di Krakow pada 1 November 1946.
Tidak lama setelah itu, Kardinal Sapieha mengirim dia ke Roma di mana beliau belajar di bawah bimbingan Garrigou-Lagrange, seorang Dominikan Perancis. Ia menyelesaikan doktoratnya di bidang teologi pada 1948 dengan tesis tentang iman dalam karya-karya St. Yohanes dari Salib (Doctrina de fide apud Sanctum Ioannem a Cruce). Pada waktu itu, dalam masa liburan, ia menjalankan pelayanan pastoral di antara para imigran Polandia di Perancis, Belgia dan Belanda.
Pada 1948 Karol kembali ke Polandia dan menjadi pastor rekan beberapa paroki di Krakow dan juga kapelan bagi para mahasiswa universitas. Masa ini berlangsung sampai 1951 ketika ia menempuh lagi studinya di bidang filsafat dan teologi. Pada 1953 ia mempertahankan tesis tentang “evaluasi kemungkinan mendasarkan etika Katolik pada sistem etika Max Scheler” di Universitas Katolik Lublin. Di kemudian hari, ia menjadi profesor teologi moral dan etika sosial di seminari tinggi Krakow dan di fakultas teologi Lublin.
Pada 4 Juli 1958 ia diangkat menjadi Uskup tituler Ombi dan Uskup Bantu Krakow oleh Paus Pius XII, dan ditahbiskan pada 28 September 1958, di Katedral Wawel, Krakow, oleh Uskup Agung Eugeniusz Baziak.
Pada 3 Januari 1964 ia diangkat menjadi Uskup Agung Krakow oleh Paus Paulus VI, yang menjadikannya Kardinal pada 26 Juni 1967, dengan gereja tituler S. Cesareo in Palatio dalam tingkatan para diakon, dan kemudian diangkat pro illa vice dalam tingkatan para imam.
Selain mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), di mana beliau memberikan kontribusi penting pada rancangan Konstitusi Gaudium et Spes, Kardinal Wojtyla berpartisipasi dalam semua pertemuan Sinode para Uskup.
October 16th 1978-Habemus Papam (We Have a Pope)
Para Kardinal memilihnya menjadi Paus dalam konklaf 16 Oktober 1978 dan mengambil nama Yohanes Paulus II. Pada 22 Oktober, Hari Tuhan, dengan mulia beliau mengawali pelayanannya sebagai pengganti Petrus ke 263. Masa kepausannya, salah satu yang terpanjang dalam sejarah Gereja, berlangsung hampir 27 tahun.
Didorong oleh keprihatinan pastoralnya bagi semua Gereja dan oleh rasa keterbukaan dan amal-kasih terhadap seluruh umat manusia, Yohanes Paulus II menjalankan pelayanan sebagai pengganti Petrus dengan semangat misioner yang tak kenal lelah, penuh dedikasi dan dengan segenap tenaganya. Beliau mengadakan 104 kunjungan pastoral di luar Itali dan 146 di dalam Itali. Sebagai Uskup Roma ia mengunjungi 317 dari 333 paroki kota.
The Pope's Pilgrimage to Poland
Dibandingkan dengan para pendahulunya beliau mengadakan lebih banyak pertemuan dengan Umat Allah dan para pemimpin bangsa-bangsa. Lebih dari 17.600.000 peziarah mengambil bagian dalam audiensi-audiensi umum yang diadakan pada hari Rabu (lebih dari 1160), tidak terhitung audiensi-audiensi khusus dan perayaan-perayaan keagamaan lainnya (lebih dari 8 juta peziarah selama Yubileum Agung Tahun 2000 saja), serta jutaan umat yang ditemuinya dalam kunjungan-kunjungan pastoral di Itali dan di seluruh dunia. Kita juga harus mengingat begitu banyak tokoh pemerintahan yang dijumpainya dalam 38 kunjungan resmi, 738 audiensi dan pertemuan yang diadakan dengan para Kepala Negara, serta 246 audiensi dan pertemuan dengan para Perdana Menteri.
The World Youth Day in Rome
Cintanya kepada orang-orang muda menghantar dia untuk membentuk Hari Kaum Muda Sedunia. 19 Hari Kaum Muda Sedunia yang dirayakan selama masa kepausannya mengumpulkan jutaan kaum muda dari seluruh dunia. Pada waktu yang sama perhatiannya kepada keluarga diungkapkan dalam Pertemuan-Pertemuan Keluarga-Keluarga Sedunia, yang dimulainya pada 1994.
Yohanes Paulus II sukses mendorong dialog dengan orang-orang Yahudi dan wakil-wakil dari agama-agama lain, yang beberapa kali diundangnya untuk pertemuan-pertemuan doa bagi perdamaian, khususnya di Assisi.
Di bawah bimbingannya Gereja menyiapkan diri untuk milenium ketiga dan merayakan Yubileum Agung tahun 2000 sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang termuat dalam Surat Apostolik Tertio Millennio Adveniente. Gereja menghadapi era baru, sambil menerima petunjuk-petunjuknya dalam Surat Apostolik Tertio Millennio Ineunte, di mana beliau mengindikasikan kepada umat jalan menuju masa depan mereka.
Dengan Tahun Penebusan, Tahun Maria dan Tahun Ekaristi, beliau mempromosikan pembaruan rohani Gereja.
Ia memberikan dorongan luar biasa untuk kanonisasi-kanonisasi dan beatifikasi-beatifikasi, yang berfokus pada teladan-teladan kesucian yang tak terbilang jumlahnya sebagai insentif bagi orang-orang zaman kita ini. Ia merayakan 147 beatifikasi, pada saat mana ia memaklumkan 1.338 Beato/a serta 51 kanonisasi untuk 482 Santo/Santa. Ia menjadikaan Theresa dari Kanak-Kanak Yesus sebagai Doktor Gereja.
Beliau memperluas Kolese para Kardinal, dengan menciptakan 231 Kardinal (tambah satu in pectore/dalam hati) dalam 9 konsistori. Beliau juga mengundang enam pertemuan paripurna Dewan Kardinal.
Beliau mengorganisir 15 pertemuan berupa Sinode para Uskup, yakni enam Pertemuan Umum Biasa (1980, 1983, 1987, 1990, 1994 dan 2001), satu Pertemuan Umum Luar Biasa (1985) dan delapan Pertemuan Khusus (1980,1991, 1994, 1995, 1997, 1998 (2) dan 1999).
Pope John Paul II (1920-2005)
Diantara dokumen-dokumennya yang paling penting adalah 14 Ensiklik, 15 Ajakan Apostolik, 11 Konstitusi, 45 Surat Apostolik.
Beliau mempromulgasikan Katekismus Gereja Katolik dalam cahaya Tradisi sebagaimana secara otoritatif ditafsirkan oleh Konsili Vatikan Kedua. Beliau juga membarui Kitab-Kitab Hukum Gereja Timur dan Barat, membentuk Lembaga-Lembaga baru dan mengorgansir kembali Kuria Roma.
Sebagai seorang Doktor beliau juga mempublikasikan lima buku karangannya sendiri: "Crossing the Threshold of Hope" – “Melewati Ambang Harapan” (Oktober 1994), "Gift and Mystery, on the fiftieth anniversary of my ordination as priest" – “Anugerah dan Misteri, pada hari ulang tahun kelima puluh tahbisan imamat saya” (Nopember 1996), "Roman Triptych" poetic meditations – meditasi-meditasi puitis “Triptik Romawi” (Maret 2003), "Arise, Let us Be Going" – “Bangkitlah, Marilah Kita Melangkah” (Mei 2004) dan "Memory and Identity" – “Kenangan dan Identitas” (Pebruari 2005).
The funeral of Pope John Paul II was held on April 8, 2005, six days after his death on April 2, 2005
Dalam cahaya Kristus yang bangkit dari orang-orang mati, pada 2 April tahun Tuhan 2005, pada pukul 21.37, mendekati akhir hari Sabtu dan Hari Tuhan sudah dimulai, pada Oktaf Paskah dan Hari Minggu Kerahiman Ilahi, Imam terkasih Gereja, Yohanes Paulus II, meninggalkan dunia ini menuju Bapa.
Sejak malam itu sampai hari pemakaman almarhum Sri Paus pada 8 April lebih dari tiga juta peziarah datang ke Roma untuk memberikan penghormatan kepada jasad Sri Paus. Banyak dari antara mereka mengantre sampai 24 jam untuk memasuki Basilik Santo Petrus.
Pada 28 April Bapa Suci Benediktus XVI mengumumkan bahwa masa tunggu lima tahun sebelum suatu proses beatifikasi dan kanonikasi dimulai dilonggarkan bagi Yohanes Paulus II. Proses beatifikasi secara resmi dibuka oleh Kardinal Camillo Ruini, vikaris jendral untuk keuskupan Roma, pada 28 Juni 2005.

http://www.fjp2.com

Kaum Muda Protagonis Perubahan In Memoriam Paus Yohanes Paulus II

Terima kasih... terima kasih... kalian sudah datang. Aku telah mencari kalian. Terima kasih.”

Demikian kata-kata terakhir Paus Yohanes Paulus II sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Kata-kata ini, dalam tafsiran mereka yang mendengar, ditujukan kepada kaum muda yang datang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, saat Paus mengalami sakratul maut.




Kaum muda

Paus Yohanes Paulus II memang dikenal dengan cinta dan perhatiannya yang amat besar kepada orang muda. Kerasulan kaum muda adalah salah satu legasi, warisan kepemimpinannya. Baginya, kaum muda adalah harapan, masa depan Gereja. Yohanes Paulus II meminta, bahkan menuntut, orang muda agar menjadi saksi-saksi pengharapan, nabi-nabi kehidupan, cinta dan sukacita, menjadi garam dan terang, pelaku-pelaku perubahan, bukan sekadar penerima. Ia menginginkan wajah Gereja yang dinamis, Gereja yang selalu muda.

Salah satu bentuk perhatiannya yang menonjol adalah dilembagakannya Hari Orang Muda se-Dunia (World Youth Days/WYD) pada 20 Desember 1985. Sejak saat itu, WYD selalu digelar setiap dua atau tiga tahun sekali dan terus berlangsung hingga kini. WYD 2011 akan dilaksanakan di Madrid, Spanyol. Dan, pada WYD 2011, Paus Yohanes Paulus II dijadikan sebagai pelindung.

Perhatian Paus Yohannes Paulus II pada hakikatnya merupakan amanat, gambaran, citra Gereja sebagaimana rupa Yesus sebagai “pahlawan” sejati, murni, dan rendah hati, nabi kebenaran dan cinta kasih, sahabat dan teman orang muda. Gereja senantiasa menyapa orang muda. Selain dalam bentuk peristiwa kolosal seperti WYD, berbagai pertemuan, pelatihan baik pada level regional, nasional, dan lokal di tingkat keuskupan seringkali digelar. Tak terhitung sapaan pastoral, surat-surat apostolik. Dalam forum-forum besar Gereja, seperti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI), orang muda dilibatkan. Tentu masih banyak perhatian lebih konkret lainnya.

Namun demikian, perhatian Gereja ini bagi sebagian orang muda seolah bertepuk sebelah tangan. Masih saja ada kaum muda yang bertanya, mengeluh, menuntut, menghakimi seolah-olah Gereja tidak melakukan apa-apa. Ada pula di antara orang muda kita yang sibuk dengan ribut, rebut, dan minta fasilitas.

Kontras

Sikap-sikap semacam ini sebetulnya sangat kontras dengan jatidiri, identitas, dan karakter Sang Guru, kepala dan teladan gerakan kita, yakni Yesus sendiri. Bila setia dan tekun menyelami kehidupan Yesus, maka akan tampak sekali karakter-karakter, ciri, identitas yang menonjol: inisiatif, peka, kreatif, fokus dengan misi-Nya. Kehidupan Yesus menunjukkan diri sebagai pelaku, pemimpin, penggerak perubahan yang radikal

Gereja sebagai cerminan wajah Kristus menampilkan karakter serupa sebagai protagonist dalam sejarah kemanusiaan, dengan segala kelebihan dan kekurangan, dan tentu tak lepas dari segala kontroversinya. Gereja Katolik oleh sebagian orang dituduh konservatif, namun justru paling sering melakukan terobosan-terobosan.

Singkatnya, kehidupan Yesus dan Gereja mencerminkan kehidupan yang aktif, tidak pasif. Pelaku, pemimpin bukan epigon, membeo, selalu sadar akan panggilan dan misi kehidupan yang diterima dari Sang Pencipta. Bahkan, dalam situasi terjepit, kondisi yang menantang, sarana terbatas, Yesus dan Gereja-Nya senantiasa hadir dan tampil membawa kabar sukacita. Itulah hakikat, citra diri, dan identitas murid Kristus yang mestinya menjadi sumber inspirasi bagi kita semua.

Teladan inspirasi

Dalam kehidupan bernegara dan menggereja, teladan baik dan inspiratif ditunjukkan oleh tokoh, baik awam maupun gembala kita, dalam panggilan sebagai 100 persen Indonesia, 100 persen Katolik. Bapak Politik Katolik Indonesia I.J. Kasimo dan kawan-kawannya, aktif terlibat dalam perkumpulan Trikoro Dharmo, Budi Utomo, lalu mendirikan Partai Katolik pada usia muda belia. Pendiri-pendiri PMKRI, di tengah kesibukan kuliah dan berjuang di medan laga mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan, masih sempat memikirkan sebuah wadah mahasiswa yang menampilkan kerohanian Katolik sebagai pedoman. Mereka terinspirasi oleh ajaran Gereja: melibatkan diri dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bergerak dengan penuh semangat, mengambil inisiatif, meski situasi dan kondisi problematis menghadang.

Masih banyak contoh lain, baik yang dikenal maupun yang tidak. Misalnya, Frans Seda, Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara, Yusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, Chris Siner Key Timu, Ben Mboi, yang pada masa muda mereka sangat aktif, bahkan hingga di usia menjelang senja.

Karakter Kristus

Karakter-karakter seperti ini mestinya menjadi spirit, nilai, yang harus dihidupi oleh orang muda Katolik. Kalau selama ini orang muda masih bertanya, mengeluh, menuntut, menghakimi Gereja, sekarang dan ke depan harus bertanya: “Apa yang dapat saya lakukan sebagai bagian dari Gereja? Apa yang dapat saya lakukan untuk Gereja?” Bukan bertanya: “Apa yang telah Gereja berikan untuk saya?” Apalagi, sampai menghabiskan energi untuk ribut-rebut dan minta fasilitas.

Tantangan Gereja masa kini sangat besar. Boleh dikatakan Gereja sedang menderita. Paus Yohanes Paulus II dalam Tertio Millenio Adveniente (1994) menyebut ada gejala keterlepasan manusia dari yang Ilahi atau religious indifference, sehingga seakan-akan manusia hidup tanpa Allah. Gejala yang dilihat Paus tampak dalam lemahnya rasa kepekaan terhadap daya transenden dalam hidup manusia, ketidakpastian dan ketidakjelasan paham dan kesadaran etis, juga lemahnya rasa penghargaan terhadap nilai kehidupan dan keluarga.

Paus Yohanes Paulus II juga berulangkali menyatakan kecemasannya akan wajah dunia yang semakin meninggalkan Tuhan. Dikatakannya, masyarakat tanpa Tuhan menjadi nyata saat hidup hanya ditentukan oleh pertimbangan politik dan ekonomi, dengan mengabaikan aspek spiritual dan kekayaan kerohanian. Ringkasnya, kehidupan dunia sepertinya berbalik, melawan apa yang senantiasa diwartakan, diajarkan, dan dilakukan Gereja.

Gereja masa kini dihadapkan pada arus tantangan zaman yang berat, seperti berkembangnya paham nihilisme, relativisme, kebebasan tanpa batas, terkuburnya moralitas dalam kehidupan politik, pengabaian terhadap harkat-martabat kemanusiaan, pelanggaran HAM, kemiskinan, ketidakadilan, KKN, masih berkembangnya intoleransi dalam kehidupan beragama, dan aneka tantangan kebangsaan dan kemanusiaan lainnya.

Menjadi saksi

Di tengah situasi yang menantang ini, sesuai dengan panggilan dan misi yang diemban, Gereja tidak mungkin berpangku tangan. Gereja bersama saudara saudari lain pasti mengambil bagian, berprakarsa memperbarui tata dunia agar berkembang semakin adil dan manusiawi. Tantangan-tantangan ini mestinya menjadi bahan permenungan, analisis orang muda, sehingga dapat merumuskan peran mereka ikut mentransformasi tata dunia, baik secara perorangan sesuai kapasitas, talenta, karisma masing-masing maupun secara kelompok.

Saat ini, ada kebutuhan mendesak bagi orang muda untuk menemukan kembali, memandang, mengenal Kristus. Saat Forum Pemuda Internasional di Roma, tahun 2004, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kita tidak diselamatkan oleh ideologi atau formula. Kita diselamatkan oleh Yesus.

Penulis: Elias Sumardi Dabur
http://www.hidupkatolik.com

Selasa, 06 September 2011

Selamat Kepada Pengurus Sinterklaas 2011

 Pemilihan Sinterklaas 2011 telah dilakukan di Toraja...


simak foto-foto acara pemilihan dibawa ini




Inilah Suasana sebelum pemilihan ketua Sinterklaas 2011


















terlihat para anggota MMK yang sedang memilih


inilah beberapa nama yang masuk dalam putaran I pemilihan
pemilihan kemudian dilanjutkan dengan mengambil 3 nama peraih suara terbanyak


dan inilah 3 peraih suara terbanyak di putaran pertama
saudara Andry , Wahyu & Erik






suasana semakin seru pada putaran kedua


dan akhirnya saudara Erik terpilih sebagai ketua sinterklaas 2011
dan saudara andry di tempat kedua sekaligus dinobatkan sebagai ketua pembuatan kandang natal 2011














selamat kepada pengurus yang telah terpilih.. selamat beerkerja

Mengenal Kelebihan dan Kelemahan diri


Kemarin pas lagi bersih-bersih rumah, nemuin lembar kertas, stelah diliat…. Itu adalah kertas yang berisi kebaikan dan keburukan ku yang saya dapat dari teman-teman saya di MMK dalam acara games di Toraja beberapa waktu lalu….

Permainan games introspeksi diri melalui mata teman…
Semua peserta duduk melingkar.. dibagikan amplop yang bertuliskan nama kami masing2…

Dalam amplop berisi selembar kertas yang kemudia di bagi menjadi 2.. satu lembar di tulis kebaikan yang ada pada diri kita masing2… dan satu lembarnya di tulis keburukan kita…. Setelah itu masukan dalam amplop.. dan amplom tadi di over ke teman disamping anda… setelah itu org di sebelah anda akan menerima amplom dari anda.. dan kemudian menulis kebaikan dan keburukan anda menurut pengelihatannya selama ini….


Aku membacanya…. Ternyata kebaikanku banyak juga ya….hehehe… 

anehnya lagi aku tak menyadari klo dalam diri saya memiliki beberapa kebikan yang di liat oleh teman-teman saya… Kertas ini saya lalu scan… end abadikan….. sebenarnya… lebaran keburukannya juga ada.. tapi aturan permainannya waktu itu.. setelah membaca semua masukan2 dari teman2.. maka lebaran keburukan kami bakar dan kebaikan kami simpan… dengan harapan agar keburukan yang selama ini ada dalam diri kita masing2 bisa hilang. Dan kebaikan yang sudah ada dapat terus kita pertahankan….

Jika kita menyadari bahwa setiap orang memilki kelebihan dan kelemahan, maka setiap orang akan selalu rendah hati dan menghargai hak azasi manusia. Bagaimanakah untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri???? Cara yang paling tepat adalah dengan melakukan introspeksi diri atau merenungkan diri untukmelihat kemampuan diri sendiri secara jujur.

Untuk melakukan introspeksi diri memang bukan hal yang mudah, maka perlu bantuan orang lain terutama orang-orang di sekitar kita untuk memberikan penilaian kepada diri kita secara jujur. Namun, dalam hal ini pun tidak mudah. Sebab kadangkala orang-orang di sekitar kita cenderung mengatakan tidak sejujurnya dan cenderung menyenangkan hati kita. Hal yang penting untuk melakukan introspeksi adalah :

Menghilangkan perasaan superior, yakni menganggap dirinya paling hebat, sehingga malu jika diketahui kelamahannya. 
Jangan pernah menganggap orang lain lemah, sebelum menemukan kelemahan diri sendiri. 

Menanamkan pemahaman kepada diri sendiri bahwa tujuan introspeksi adalah untuk memperbaiki diri agar lebih baik dalam bersikap maupun bertingkahlaku. 
Memperhatikan kritikan yang masuk. Walaupun kritikan itu pedih, namun pada hakikatnya kritikan itu bersifat membangun terutama membangun mentalitas kita. 

Menggunakan bantuan alat ukur dalam bentuk angket atau kuersioner yang khusus dibuat untuk menguji kelemahan diri. Ini biasanya dilakukan oleh lembaga psikologi. 


Dengan mengetahui kelebihan diri, maka kita dapat mengembangkannya sebagai bentuk kekuatan yang mendorong tercapainya kesejahteraan lahir dan batin bagi kehidupan sekarang dan di masa yang akan datang. Selain dengan mengetahui kelebihan diri, mengetahui kelamahan yang dimiliki juga bermanfaat dalam hal :

Membatasi sikap perilaku 
memudahkan dalam mencari jalan keluar terbaik 
Mengupayakan agar kelemahan bukan penghambat, tetapi justru pemacu semangat untuk meningkatkan kemampuan yang menjadi kelebihan kita. 
Mengakui kelebihan orang lain 

Untuk itu mari kita bersama-sama mengintrospeksi diri, sebelum, kita menilai kekurangan orang lain.Trima kasih buat teman2 yang udah memberikan masukan untuk saya….